MIMPI ANAK DESA

Menceritakan seorang anak berjuang sendiri menbiayai pendidikan sendiri

MIMPI ANAK DESA

Melanjutkan pendidikan bagi anak yang tinggal dipelosok desa dengan segudang cita-cita digantungkan pada langit sebagai tempat mencurahkan isi hati selama ini terpendam dalam, rasanya memiliki pendidikan tinggi adalah suatua mustahil bagi orang banyak dengan latar belakang perekonomian jauh dari kata cukup. Hari demi hari telah berlalu bulan pun berganti tak terasa, masa penerimaan anak sekolah pu sudah dibuka namun tak kunjung jua ada kalimat yang keluar dari bibir orang tercinta mengatakan, “berangkatlah mendaftar” hal itulah aku tunggu-tunggu agar bisa bersekolah seperti teman-teman sepermainanku.

Aku tak bisa berbuat apa dengan umur yang masih beliah bisa dikatakan seumur jagung mengerjakan pekerjaan orang dewasa, namun aku tak pernah berpikiran hal tersebut, bahwasanya saya masih anak-anak. Untuk mencapai keinginan teresebut, hal itu saya singkirkan agar tidak menganggu konsentrasi dalam mencari pekerjaan. Tak berselang lama dengan penuh penantian bisa mendapatkan pundi-pundi rupih dari pekerjaan hasil keringat sendiri. Pekerjaan pertama yang saya lakoni adalah menjadi kernet mobil truk setiap harinya pengangkut buah-buahan hasil panen dari desa kami yang akan di jual di kota. Upah pada saat itu masih berkisar Rp. 5000, dari hasil ini ditabung demi memnuhi kebutuhan biaya sekolah saya di samping itu jua saya sisihkan kepada orang tua menabah perekonomian rumah.

Ternyata penghasilan dari pekerjaan itu tidak cukup saya gunakan keperluan pendidikan saya dan keluarga, maka dari itulah saya memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai pemulung limbah plastic dan botol kemudian saya jual pada pengepul setiap harinya lewat di depan rumah walaupun tidak banyak, akan tetapi mampu menambah penghasilan pundi-pundi uang. Di sela-sela melakoni sebagai seorang siswa ditambah dengan pekerjaan hal itu saya menikmati karena sifatnya seperti orang bermain dan berpenghasilan, orang tua tidak mengetahui hal tersebut hanya saya beliau selalu melontarkan pertanyaan “dari mana saja engkau selalu pulang malam”. Yah saja jawab singkat “belajar kelompok” wajarlah jika pulang malam sebab berangkat dari rumah jam 6 pagi sampai 6 malam dikarena tuntutan pekerjaan, ini pula saya rahasiakan dari orang tua, sebab saya tidak mau mereka berdua mengetahui hal tersebut.

Hidup dengan keterbatasan ekonomi sangat memilihkan baju sekolah yang saya miliki hanya 1 pasang baju putih celana biru ditambah dengan baju pramuka satu pasang selama 3 tahun tidak pernah ganti bukan karena tidak mengiginkan hal itu, hanya saja. Uang tidak cukup. Demi menjaga baju sekolah agar tidak rusak sepulang dari sekolah saya lipat dan memasukkan dalam tas hingga tetap kelihatan awet. Posisi ini tidak membuat saya jatuh dalam keterburukan dan menghapus mimpi anak desa berpendidikan tinggi seperti orang lainya. Malah justru membuat saya menjadi seorang survive. Memiliki keteguhan hati dan dukungan dari orang tua tercinta sehingga inilah menjadi motor pengerak lebih giat lagi dalam belajar dan bekerja.

Setelah selesai belajar kemudia melanjutkan pekerjaan tentu bukan pekerjaan mudah di samping memeras pikiran dan tenaga. pada saat malam hari tentu rasa lelah mengerogoti tubuh mungil aku miliki, rasa lelah selalu menghampiri akan tetapi tanggungjawab tetap saya tetap jalankan yaitu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan inilah terus menerus saya lakoni sampai lulus dari Sekolah Dasar Menengah (SMP) dengan meraih prestasi 20 besar lulusan terbaik secara umum dan menjadi langkah awal bagi saya meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya.