Mengendalikan Sosmed atau Dikendalikan sosmed? ( Ibrah andai Hud-Hud punya akun sosial media)

Mengendalikan Sosmed atau Dikendalikan sosmed? ( Ibrah andai Hud-Hud punya akun sosial media)

     Sosial media merupakan salah satu penyetir kehidupan saat ini. Globalisasi yang terus mengalami perkembangan, menjadikan sosial media layaknya makanan dalam kehidupan sehari-hari, yang semua orang baik kalangan anak-anak hingga dewasa mengkonsumsi sosial media.

     Sosial media sendiri merupakan salah satu bentuk kecanggihan teknologi dalam bidang komunikasi informasi yang terus mengalami perkembangan. Pendapat ini di kemukakan Muhammad Ngafifi dalam jurnal Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia daam Perspektif Sosial Budaya, bahwa salah satu janji teknologi ialah menghadirkan kemudahan.

     Dari sini dapat kita lihat perkembangan teknologi khususnya bidang informasi dan komunikasi, jika dahulu dalam memberi kabar atau informasi masih melalui surat kabar, telepon seluler, kentongan, telik sandi, dan telegraf. saat ini cukup dengan satu alat kecil bernama gadget atau smartphone kita bisa mengakses semua macam informasi bahkan rentang jarak jauh sekalipun, kecanggihan teknologi saat ini di dukung dengan adanya cyber system atau internet.  Tidak mengherankan jika kita bisa mendapatkan berbagai macam informasi dari rentang jarak, ruang dan waktu yang berbeda dengan sangat mudah, namun disisi lain tentu kehadiran internet membawa dampak bagi kita, positive maupun negative.

     Statistik penggunaan smarthphone di Indonesia dari hari ke hari mengalami peningkatan, 50% dari 268 penduduk indonesia sudah menggunakan sosial media seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, Line, dan bentuk sosial media lainnya. Dari penggunaan sosial media ini tentu mengahdirkan berbagai dampak baik positive dan negative bagi anak bangsa Indonesia, kerap kali berdampak dalam beragam bidang, seperti pada pendidikan, bidang sosial budaya, bidang politik, dan lain sebagainya.

      Akhir-akhir ini, sosial media layaknya sebuah setir mobil dan kita manusia adalah sebagai pengemudinya, jika kita tidak mengemudikannya dengan baik maka akan membawa kita ketujuan yang salah, tentu merugikan diri kita sendiri dan juga orang lain. Dalam mengkonsumsi suatu informasi dalam sosial media, kita memerlukan prinsip “ bahwa tugas kita adalah mengendalikan sosial media bukan di kendalikan oleh sosial media” dengan seperti itu maka kita akan meminimalisir dari dampak negative penggunaan sosial media yang merugikan banyak kalangan, seperti  maraknya hoaxs, berita yang tidak jelas sumbernya, dan bahkan sering kali beredarnya kabar tanpa kejelasan itu menimbulkan perpecahan.

      Sebagai seorang netizen[1], kita harus mampu mengendalikan diri kita sendiri, dalam artian ada saat mengendallikan diri ketika kita menjadi konsumen suatu informasi dari suatu platmedia, dan ada saat mengendalikan diri ketika kita menjadi pengunggah informasi itu sendiri.

     Saat menjadi penyumbang informasi dalam suatu media sosial, sebenarnya kita memiliki dua tanggung jawab, pertama yaitu tanggung jawab atas tulisan kita sendiri yang kita tulis, dan kedua, tanggung jawab ketika tulisan kita dibaca oleh orang lain. Maka dari itu, dalam mengunggah sesuatu bersifat publik kita harus benar-benar menuliskan sesuatu yang berfaidah, manfaat dan jelas sumbernya,yang tak lain adalah untuk meminimalisir dampak negatif bagi diri kita sendiri dan orang lain. Dalam untaian syair  Syaikh Akram Az-Ziyadah  yang indah mengingatkan

وما من كتب الا سيفنى # ويبقى الدهر ما كتبت يداه

فلا تكتب بكفك غير شيء # يسرك في القيامة ان تراه

       Saat engkau telah tiada, apa yang Engkau tulis akan tetap ada dan abadi. Maka, janganlah pernah menulis kecuali yang membuatmu bangga saat itu ditunjukkan padamu di hari kiamat kelak.

     Sebenarnya, sosial media bukanlah sesuatu yang salah, ia hanya merupakan perkembangan dari teknologi, oleh karenanya kita harus mampu memanfaatkannya dengan bijak, menggunakannya sebagai ladang kebaikan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

      Salah satu ibrah yang dapat kita ambil dari adanya komunikasi informasi adalah dari kisah Nabi Sulaiman dengan burung hud-hud. Burung Hud-hud adalah salah satu tangan kanan Nabi Sulaiman, ia hanya seekor hewan yang hidup diantara angin, jin, hewan, syetan dan manusia, tetapi Nabi Sulaiman memilih Hud-Hud sebagai tangan kanan nya dalam mendapatkan suatu informasi. Dalam surat An Naml ayat 20-28 :

  فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍl

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba' suatu berita penting yang diyakini.

      Dapat kita ambil hikmah, bahwa seekor burung pada masa itu sebagai tangan kanan Nabi Sulaiman dalam mendapatkan suatu kabar. DR Nasaruddin Idris Jauhar salah satu dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya menjelaskan, Al Quran menyebut berita yang dibawanya untuk Nabi Sulaiman dengan naba’ yang artinya bukan sembarang berita. Naba’ beda dengan Khabar . Khabar adalah berita biasa yang bisa benar dan bisa salah. Sedangkan Naba’ adalah berita yang luar biasa dan selalu valid dan penting. Dan yang dibawanya pun bukan naba’ biasa, tapi naba’ yaqiin. Sebuah informasi dahsyat yang maha penting.

     Andai Hud-Hud memiliki sosial media, kita tidak akan membaca darinya hal-hal yang remeh yang tak berguna bagi pembacanya, ia tak akan menulis untuk menghalau galau pribadinya, yang ditulis pastinya bernilai buat orang lain dan tidak provokatif. Ia juga tidak akan menyebar informasi dalam bentuk ujaran kebencian, sindiran, dan hinaan yang tak jelas kebenarannya.

     Andai Hud-Hud memiliki sosial media, kita akan lihat bahwa dia berani mengambil resiko hanya untuk menyebar sesuatu yang benar. Ketika tidak melihat Hud-Hud diantara pasukannya, Sulaiman mengancam menyiksa dan menyembelihnya. Hud-Hud tahu itu, tapi ia berani menghadapi resiko itu karena ia benar.

     Andai Hud-Hud punya sosial media, pasti beritanya menarik. Kepada Sulaiman ia membawa berita tentang seorang ratu yang punya singgasana megah tapi menyembah matahari. Banyak hal tentang negeri Saba’ yang bisa Hud-Hud ceritakan kepada Sulaiman, tapi dia hanya membawa cerita tentang Ratu yanng berkuasa dan rakyatnya menyembah matahari.  Karena dia tahu itu sangat menarik untuk dibagikannya kepada seorang Raja yang begitu berkuasa tapi tunduk kepada Allah. Tidak ada yang membuat seorang raja muslim yang kekuasaannya tertandingi sepanjang zaman terusik, kecuali berita yang dibawa ada penguasa lain yang menyembah selain Allah.

     Andai Hud-Hud punya sosial media, dia tak akan memposting sesuatu tanpa tabayyun untuk terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Sebelum membawa berita Saba’ kepada Sulaiman, dia terlebih dahulu melakukan pengamatan menyeluruh atas negeri itu, walaupun sampai ia terlambat bergabung dengan pasukan Sulaiman yang ancaman hukumannya sangat berat. Semua itu dia lakukan hanya untuk memastikan bahwa yang dibawanya adalah berita valid yang bukan sekedar forward dan copas.

     Andai Hud-Hud punya sosial media, kita akan lihat betapa dia bertanggung jawab atas semua postingannya. Andai kita benar-benar mau belaja dari Hud-Hud, kita akan tercerahkan bahwa berita yang kita share, jika itu benar, penting, dan manfaat, akan memuliakan diri kita sendiri. Hud- Hud hanya seekor burung ditengah kerajaan Sulaiman yang terdiri dari manusia, jin, syetan, hewan dan angin. Tapi karena berita dahsyat dan bermanfaat yang dibawanya, dia menjadi tangan kanan Sulaiman. Karena berita yang dibawanya pula, kelak atas izin Allah sebuah kerajaan penyembah matahari menganut tauhid dan menyembah Allah.

     Sebaliknya, jika info yang kita sebar adalah penghinaan, maka itu akan menjadi jalan kehinaan bagi diri kita sendiri. Kita akan terhina oleh penghinaan kita kepada orang lain.

     Maha besar Allah yang menitipkan pelajaran agung nan mulia ini kepada seekor burung. Agar kita sebagai manusia sadar betapa rendahnya kita jika gagal mengambil darinya ibrah dan pelajaran.