*MEMBANGUN LITERASI DESA, BERJAYALAH KOTAKU*

*MEMBANGUN LITERASI DESA, BERJAYALAH KOTAKU*

Ada sebuah plesetan dari KWB, yaitu Kota Wisata Bantengan. Ini karena di Kota kami pernah memecahkan rekor MURI pengerahan massa hingga puluhan ribu untuk menari tari Bantengan. Tiap tahun dan dalam even penting hajatan kota, bantengan tak pernah ditinggalkan. Bahkan batik banteng menjadi salah satu ikon batik budaya kota Batu yang pasarnya sudah mencapai mancanegara.

 

Beberapa kawan ketika diskusi sambil ngeteh dan ngopi, berbicara pesimis tentang upaya menggerakkan literasi di Kota Batu. Ada yang menyalahkan teknologi (baca:gadget), ada yang menyalahkan pemerintah, hingga menyalahkan masyarakat itu sendiri karena tidak suka membaca. Mereka pun berkata “Lapo angel-angel nggerakno literasi, ora bakalan berhasil. Lha iku lho perpus kota ae sepi pengunjung, toko buku tutup ora payu.” (Buat apa sulit-sulit menggerakkan literasi, tidak bakalan berhasil. Lihatlah itu, perpustakaan kota, sepi pengunjung, toko buku tutup tidak laku).

 

Namun, rasa pesimis itu niscaya akan pudar dan sirna, jika kita anjang sana dan bersilaturahmi mencari orang-orang yang memiliki gelombang dan frekuensi yang sama. Cluenya adalah wong seng peduli dengan kota Batu.

 

Maka dalam perjalanan itu, saya menemukan para inspirator saya, salah satunya Om Achmad Berlin Rifai (Salah satu inisator Nyemplung kali membersihkan sampah di Kota Batu). Yang saya lihat jiwa “metenteng” kengototannya untuk bergerak ngajak masyarakat peduli dan menjaga air sungai dari sampah tidak pernah berhenti. Program-programnya jelas, aksinya nyata. Beliau bukanlah ASN, pegawai atau pejabat. Beliau adalah seorang Budayawan. Kami hanya bertemu sekali, tapi Gerakan beliau bersama kawan-kawan Sabers Pungli selalu menginspirasi.

 

Inspirator dari para guru, banyak. Guru-guru Kota Batu keren dan hebat. Banyak kawan guru saya, selain sebagai guru di pagi hari, di sore dan malam hari mereka menjadi aktivis, pegiat, penggerak kampung dan desanya. Mereka memiliki passion dan gerakannya masing-masing. Ada yang di bidang lingkungan, ada yang dibidang musik, ada pendongeng, ada pemberdayaan masyarakat, ada entrepreneur, pemberdayaan petani, dan lain-lain semuanya lengkap.

 

Nilai yang saya tangkap dari mereka: hatinya tulus, lakunya ikhlas. Itu sulit dulurrr, tapi saya melihat mereka bisa melakukannya dan bahagia.

 

Saya pribadi tidaklah sehebat mereka. Mungkin yang saya lakukan banyak pencitraan di medsos. Anda mungkin tidak tahu keburukan saya, karena yang saya tampilkan di medsos hanyalah kebaikan dan pencitraan. Namun, apapun itu saya ingin meniru para inspirator saya. Mungkin tidak bisa banyak berbuat kebaikan, hanya sedikit melakukan hal kecil dan bermanfaat. Dan melakukan hal-hal kecil itu tidak bisa dilakukan sendiri, kudu ngajak uwong.

 

Alhamdulillah beberapa pemuda desa mau membantu saya. Malam tadi mereka telah menyiapkan tempat, meja dan kursi untuk menyambut tamu literasi. Pagi ini, tanggal 24 November 2019, kami mengadakan kegiatan literasi di Gedung Pemuda Desa Junrejo. Narasumber utamanya adalah Dra. Hj. Siti Annijat, M.M.Pd.  Beliau adalah dosen senior BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Selain mahasiswa Libya yang hadir sebagai peserta di acara kali ini. Hadir pula penggerak literasi dari Perpustakaan Kota Batu. Kolaborasi yang kami lakukan dengan Perpustakaan Kota Batu ini sejatinya sudah terjalin sejak lama. Tentu, sebagai perpustakaan umum Perpustakaan Kota Batu bisa menampung kerjasama dari kalangan manapun.

 

Saya berharap ke depan Perpustakaan Umum semakin bersinergi dengan desa. Mengadakan program pengembangan perpustakaan desa, sehingga bisa menjadi wadah juga bagi penulis-penulis Kota Batu. Harapannya literasi dari desa Berdaya, kota pun menjadi Berjaya. Amiin ya rabbal ‘alamaiin.

 

Ernaz Siswanto, M.Pd

(Guru SDN Punten 01 Kota Batu)

Kaki Panderman, 24 November 2019