LEBIH DEKAT DENGAN SANG PENCIPTA DI OBSERVATORIUM BOSSCHA

Sains merupakan sarana yang sangat penting dalam memahami keberadaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Semakin luas dan dalam sains yang dipahami seseorang, maka keyakinannya tentang keberadaan Allah akan semakin dalam.

LEBIH DEKAT DENGAN SANG PENCIPTA  DI OBSERVATORIUM BOSSCHA
Di depan Boscha

Sains secara sederhana dapat diuraikan sebagai penafsiran dan pemaparan manusia secara sistematis tentang seluk beluk alam semesta melalui kegiatan ilmiah yang dilakukannya. Dengan sains, manusia mampu memahami adanya kebesaran, keteraturan, keharmonisan dan keindahan segala yang ada di alam, termasuk diri manusia itu sendiri, dari yang paling kecil seperti atom hingga yang paling besar seperti galaksi. Dengan merenungi kenyataan ini secara mendalam, manusia pada akhirnya mampu berkesimpulan bahwa mustahil sistem yang sempurna ini ada dengan sendirinya, dan dapat terus eksis secara dinamis tanpa ada yang menciptakan segala kesempurnaan tersebut. Dialah Allah, Tuhan semesta alam. Lebih dari sekedar menunjukkan keberadaan Pencipta, sains mampu mengungkap Sifat-Sifat Allah Yang Agung. Keteraturan dan kesempurnaan di alam menunjukkan sifat-Nya yang Maha Tahu dan Maha Kuasa dalam menciptakan hukum-hukum di alam agar berjalan secara sempurna dan teratur. Ditumbuhkannya beragam tanaman, diciptakannya berjenis-jenis hewan sebagai rizqi yang menyenangkan bagi manusia dan diciptakannya kondisi bumi yang nyaman untuk dihuni menunjukkan bahwa Pencipta tersebut memiliki sifat Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemberi Rizqi. Begitulah seterusnya, berbagai cabang sains, yang mengkaji beragam ciptaan Allah secara parsial maupun global mampu mengungkapkan beragam Sifat Allah Yang Agung.
 

Sains merupakan sarana yang sangat penting dalam memahami keberadaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Semakin luas dan dalam sains yang dipahami seseorang, maka keyakinannya tentang keberadaan Allah akan semakin dalam. Semakin bertambah pengetahuan yang dimilikinya tentang seluk beluk alam semesta semakin tahu ia sifat-sifat Allah. Tidak mengherankan jika kemudian ia mudah mengingat Allah (berdzikir) ketika mempelajari sains (bertafakkur). Semakin bertambah pengetahuannya tentang sains yang digelutinya, semakin menjadikannya hamba yang mengenal dan bertaqwa kepada Allah.

Observatorium Bosscha adalah tempat yang sangat cocok untuk mempelajari sains (bertafakkur) melihat bintang yang terletak di daerah Lembang Bandung Jawa Barat. Sangat berbeda dan menarik untuk dikunjungi, kita bisa bermain sekaligus belajar mengamati dan meneliti mengenai berbagai macam bintang maupun galaxy di Observatorium Bosscha ini. Disini juga kesempatan yang sangat berharga untuk mengenal lebih jauh betapa Maha Kuasanya Sang Pencipta.

Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, berada di atas ketinggian 1310 mdpl atau pada ketinggian 630 meter dari Plato Bandung. Tinggi bangunan ini mencapai 15 meter dengan berdiameter 11 meter, sedangkan untuk kubahnya yang dinamakan Zeis beratnya 56 ton dengan diameter 14,5 meter. Atap kubah ini dapat bergerak dengan daya listrik berkekuatan 1500 watt. Dengan kokohnya, bangunan Observatorium Bosscha ini diperkirakan dapat bertahan dari guncangan gempa berkekuatan hingga tujuh skala Richter. Di Observatorium Bosscha terdapat teleskop Zeiss yang sudah mulai dioperasikan sejak 1928 dan hingga sekarang masih berfungsi dengan baik. Memiliki panjang 11 sentimeter, diameter 60 sentimeter dan berat 17 ton, awalnya teleskop ini digunakan untuk melakukan penelitian bintang ganda. Selain teleskop Zeissada juga teleskop lain yang terdapat di dalamnya, yaitu Unitron, Goto, Bamberg. Kesemua teleskop dapat digunakan untuk menyaksikan bulan hingga matahari.

Observartorium Boscha (dulunya bernama Bosscha Sterrenwacht ) di bangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda. Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Pada rapat pertama NISV, diputuskan bahwa akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia-Belanda.

Karel Albert Rudolf Bosscha yang merupakan mantan dosen Bung Karno ketika mengenyam pendidikan di Insitut Teknologi Bandung (ITB) bersedia memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Untuk mengenang jasanya, diambillah nama Bosscha sebagai nama tempat terompong bintang ini. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Kelahiran Bintang

Sebuah bintang lahir di sebuah kawasan yang biasa disebut nebula, suatu kawasan seperti awan yang terdiri dari molekul-molekul unsur gas seperti Hidrogen, Oksigen, Nitrogen dan lain-lain.
Ada beberapa pendapat sering jadi rujukan mengenai asal muasal kabut gas ini:
1.Terbentuk ketika alam semesta lahir
2.Unsur yang dilemparkan oleh bintang yang meledak
Awal proses pembentukan bintang;seperti biasa, biangnya adalah gravitasi. Baik itu gravitasi yang timbul dalam awan molekul (interaksi antar molekul) sehingga kedua molekul akan saling mengorbit. makin banyak molekul yang terlibat, makin besar gravitasi yang timbul.
Gravitasi tak langsung yang berasal dari luar, antara lain disebabkan oleh:
1. Hembusan angin sepoi-sepoi dari bintang yang ada disekitarnya (bow shock)
2. Semburan jet dari black hole yang mendorong kumpulan awan gas yang ada disekelilingnya.
             Tahap berikutnya adalah ketika jumlah Hidrogen sudah mencukupi untuk memulai pembakaran dan menyokong teras yang terbentuk akibat bertumpuknya gas di bagian luar bintang. Cahaya (dalam berbagai macam panjang gelombang) mulai dipancarkan ketika kompor nuklir bintang sudah aktif, dan rotasi bintang menyebabkan efek sentrifugal dan meniup materi-materi yang ringan menjauh.

 

Terbentuknya Matahari

Seperti semua bintang, Matahari terbentuk dari awan gas dan debu yang mengerut. Partikel gas di tepi luar awan itu, atau nebula, mulai jatuh ke pusat, dan gravitasi partikel-partikel ini bersama-sama menarik atom lebih banyak lagi. Selama 10 juta tahun, awan gas itu bertambah mampat dan panas. Kemudian suatu perubahan penting terjadi pada intinya. Karena tarikan gravitasi, tekanan yang makin besar memaksa inti-inti atom berpadu dalam proses fusi nuklir, dan mengeluarkan energi sangat besar. Begitu api intinya menyala, Matahari telah menjadi bintang. Beberapa proses:

1. Awan Gas yang Mengerut

Kira-kira lima miliar tahun silam, debu dan gas (nebula) bercahaya  mulai menggumpal dan mengerut. Seperti adonan piza yang dilempar dan berputar di udara, nebula ini memipih seperti cakram

2. Tarikan Gravitasi

Selagi nebula terus berputar, gravitasi menarik materi ke pusat. Atom gas yang tertarik jatuh ke tengah menuju inti semakin banyak, sehingga kemampatan dan suhu terus meningkat. Akibatnya, inti dalam yang panas mulai memijar. 

3. Hampir Menjadi Bintang

Dengan mengerut lebih jauh lagi, inti yang cerah itu mengecil sampai kira-kira 50 kali ukuran Matahari sekarang. Atom-atom terus jatuh ke dalam inti, dan di situ gravitasi yang sangat kuat memampatkannya menjadi sangat padat. 

4. Sebuah Bintang Lahir

Setelah mengecil terus selama 10 juta tahun, Matahari muda menjadi mantap pada ukuran sedikit di atas ukurannya sekarang. Suhu intinya telah mencapai 10 juta° Kelvin dan reaksi inti pun mulai.

5. Matahari sekarang

Pada umurnya sekarang 4,6 miliar tahun, Matahari telah membakar kira-kira setengah hidrogen dalam intinya. Pembakaran ini akan terus berlangsung lima miliar tahun lagi. 

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”(QS.Al Mulk: 3-5)

Dalam ayat ini, Allah menciptakan langit berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat. Kemudian Allah tanyakan, apakah ada sesuatu yang cacat atau retak di langit tersebut?  Jawabannya tentu saja tidak. Kemudian Allah memerintah melihatnya berulang lagi (bahkan berulang kali), apakah ada yang cacat di langit itu? Hasilnya, jika dilihat berulang kali tidak ada cacat sama sekali pada ciptaan Allah tersebut. Namun yang didapat adalah rasa payah karena berulangkalinya menelusuri langit itu.

Dalam ayat selanjutnya, Allah menjelaskan kebagusan langit ciptaan-Nya. Langit tersebut menjadi indah dan menawan karena dihiasi dengan bintang-bintang. Bintang dalam ayat di atas disebutkan berfungsi untuk melempar setan dan sebagai penghias langit. Namun sebenaranya fungsi bintang masih ada satu lagi. Bintang secara keseluruhan memiliki tiga fungsi. Fungsi pertama: Untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk,

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Fungsi kedua: Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut.

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 16).

Fungsi ketiga: Sebagai penerang dan penghias langit dunia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

Mereka yang memiliki pengetahuan tentang sains berarti memiliki sarana untuk menanamkan aqidah dalam dirinya sendiri dan orang lain. Dengan kata lain dia adalah termasuk orang yang paling mampu untuk berdakwah melalui sains yang dimilikinya. Mengajarkan sains bukanlah sekedar menjadikan anak didik, murid, mahasiswa dan masyarakat luas mengerti tentang sains dan aplikasi sains itu sendiri. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu menanamkan dalam diri mereka akan keajaiban dan kesempurnaan alam yang merupakan petunjuk keberadaan Allah Yang Maha Kuasa beserta Sifat-Sifat-Nya.
Sebuah kutipan: Salah seorang pendiri fisika modern, dokter asal Jerman, Max Planck mengatakan bahwa setiap orang, yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata: “Berimanlah”. Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuwan.