HUMOR EFEKTIF DI DALAM KELAS Catatan: ERNAZ SISWANTO Guru SDN Punten 01 Kota Batu

HUMOR EFEKTIF DI DALAM KELAS Catatan: ERNAZ SISWANTO  Guru SDN Punten 01 Kota Batu

Suatu hari, pada awal semester dengan nada guyon seorang wali murid berbicara kepada saya. “Pak guru, ananda kemarin tidak masuk, katanya sebelumnya dimarahi sama Pak guru.” “Oh iya bu, kemarin itu saya minta Ananda untuk mencoba mengerjakan tugas di depan, tapi memang ananda saya beri perhatian “khusus” karena ia sering jahil kepada temannya.” Begitu jawab saya membela diri. Ibu wali murid itu pun tersenyum dan memaklumi perilaku anaknya serta tindakan yang saya lakukan. Namun dari kejadian itu saya berpikir, jangan-jangan nanti ada anak lain yang seperti itu? Karena takut atau tidak suka dengan gurunya ia akan melakukan seribu alasan agar tidak masuk sekolah. Saya pun berpikir keras. Berusaha agar suasana belajar mengajar menjadi menyenangkan dan siswa bisa memusatkan perhatiannya secara penuh pada saat belajar. Kemudian sebuah hal sederhana yang saya lakukan, yaitu tersenyum setiap pagi menyambut anak di depan kelas dan setiap pulang sekolah. Bukan berarti sepanjang hari itu tidak senyum, namun pada saat momen mau masuk dan pulang itu saya berusaha agar siswa selalu mengingat bahwa di mata mereka saya adalah sosok guru yang humoris dan menyenangkan. Ternyata jurus tersebut efektif. Di sela-sela pembelajaran juga terkadang saya coba menyisipkan humor ketika menjelaskan sesuatu. Anak-anak pun tertawa dan menjadi antusias dalam belajar. Ketika kita bersama-sama tersenyum dan tertawa di dalam kelas, anak-anak seperti merasa lebih nyaman dan terbuka untuk belajar. Mereka tidak segan untuk menanyakan soal yang dianggap sulit. Mereka juga tidak malu untuk mengatakan belum bisa dan belum mengerti dengan apa yang diterangkan. Walhasil suasana humor ini membawa antusiasme, perasaan positif, dan optimisme ke ruang kelas. Dalam sebuah tayangan YouTube: “How Humour Affects Learning”, seorang pendidik sekaligus peneliti yang bernama Mary Kay Morrison melihat pemindaian otak yang menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi di berbagai area otak ketika humor digunakan dalam percakapan dan instruksi. Hal ini menunjukkan bahwa humor memaksimalkan pembelajaran dan memperkuat ingatan. Mungkin alasan logis tersebut juga bisa menjelaskan fenomena penceramah “stand up comedy”. Pada saat mendengarkan ceramah, kita lebih ingat pesan para kiai yang disampaikan dengan joke-joke yang segar. Menurut penelitian Aan Yulianto (2016), humor bahkan dapat membantu mengatasi diskalkulia pada siswa Sekolah Dasar (SD). (Santrock dalam Satrianawati, 2012:324) menyatakan bahwa terdapat tiga macam kesulitan belajar pada anak yaitu disleksia, disgrafia, dan diskalkulia. Diskalkulia yaitu gangguan kesulitan dalam bidang perhitungan matematis ada ciri khusus sendiri tentang diskalkulia, akan kita bahas secara detail di tulisan berikutnya. Jadi terkadang diperlukan lelucon, tawa dan nyanyian di dalam kelas, agar membantu anak-anak tetap fokus dalam pembelajaran dan memotivasi mereka. Tentu saja kegiatan penyisipan humor itu harus tetap dalam proporsi yang wajar dan tidak menganggu pelajaran. Agar humor bisa tetap kondusif dan menyenangkan, (Sheinowitz, 1996) merancang dua jenis humor, yaitu: planned humor dan unplanned humor. Planned Humor, adalah humor yang direncanakan untuk pembelajaran dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang memungkinkan terpicunya keinginan tertawa pada peserta didik. (Friedman, dkk., 2002) Guru dapat menggunakan slide, film, kisah lucu, tari ice breaking. Unplanned Humor, adalah humor muncul tiba-tiba dari guru. Ada tiga kesempatan yang dapat digunakan oleh guru untuk menyisipkan humor yaitu pada kegiatawn awal, pada saat jeda strategis pembelajaran dan pada saat kegiatan akhir pembelajaran. (Darmansyah, 2011) memaparkan jeda strategis adalah istirahat sejenak ± 3-5 menit dalam proses pembelajaran berjalan selama periode waktu 20-30 menit guna mengembalikan konsentrasi siswa. Istirahatnya dapat dilakukan dengan mengubah pusat perhatian, mengubah fokus pandangan, mengendurkan otot leher dan pundak, dan menyisihkan waktu sejenak untuk mengobrol hal yang ringan namun kreatif dan menyenangkan. Begitulah, setiap guru pasti menginginkan pembelajaran yang efektif di kelas dan dapat membantu siswa belajar. Humor salah satu yang dapat menguatkan motivasi dan antusiasme siswa belajar di kelas. Jika Anda ada memiliki pengalaman humor di kelas, jangan segan untuk berbagi dan menginspirasi. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.