Gawat Darurat Literasi

Gawat Darurat Literasi

Gawat Darurat Literasi

 

Oleh: Prapti Noor

SDN Sisir 03 KWB

 

Banyak cerita literasi selama perpelanconganku kali ini. Matahari mulai terik ketika pesawat yang kutumpangi mendarat dengan agak kasar di Bandara Syamsudin Noor Kalimantan Selatan pada pukul 10.00 WITA sedianya pesawat mendarat pukul 08.00 WITA namun karena asap tebal yang mengganggu jarak pandang kapten pilot menyebabkan penumpang harus menunggu masa-masa delay hampir dua jam dengan berjejal pertanyaan.

 

"Menunggu"kata singkat yang mengandung makna berat, karena didalam kegiatan menunggu disisipi rasa bosan yang teramat sangat.  Kucoba menikmati rasa bosan pada masa delay dengan mondar-mandir di lorong gate sembari memanfaatkan waktu untuk berolah raga, tak berapa lama  terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat dengan jurusan Banjarmasin dipersilahkan naik pesawat hatiku agak blong .

Sejujurnya gemes juga menunggu pesawat delay, pasalnya tentu mengganggu rundown acara yang sudah disusun oleh pihak travel. 

Tapi apa mau di kata jika penyebab delay itu karena asap yg masih membumbung tinggi di bumi lambung mangkurat.Tentu hal bijak yang harus kita lakukan hanya menghantarkan sebait doa agar mendapatkan keselamatan dan kemudahan dalam perpelanconganku kali ini.

Dengan telinga tertutup rapat aku mengikuti proses landing oleh kapten pilot 

Setelah mengurus bagasi kami se rombongan sudah ditunggu bus yang akan mengantarkan kami ke tempat 

tujuan. Mengawali perjalanan , mataku melongok kesana kemari keluar jendela bus , sepanjang kanan kiri jalan raya masih banyak rawa- rawa, dan belum mendapatkan sentuhan inovatif dalam pembangunan daerah. Masih banyak tempat -tempat kumuh, asaku melayang jauh menambatkan cita cita tak bertaut namun aku ingin.

Sepanjang perjalanan aku terus bertanya apa yang salah dengan keadaan negara kita? negara kaya raya gemah ripah lohjinawi namun kenyataan berbicara lain.

 

Tujuan pertama kami mengunjungi rumah ano yang dibangun tahun 1925 , rumah khas Banjar yang terbuat dari kayu ulin, menawarkan kehangatan keluarga dan kekhasan hidangan berupa soto banjar. Tak satupun rombongan kami yang mau membaca penjelasan yang disuguhkan tentang rumah ano, rata rata hanya berselfi ria dan melihat batik sasirangan kebanggan masyarakat Banjar.

 

        Sepanjang siang itu rombongan kami menikmati pemandangan sungai Martapura yang konon banyak mengandung intan berlian. Tak terbayangkan jika sungai keruh dan kotor karena gulma serta kesadaran warga untuk tidak membuang sampah masih rendah ternyata menyimpan kekayaan duniawi. Sungai Martapura terbukti menghidupi warga sekitarnya. Selain intan berlian Sungai Martapura banyak memberikan penghidupan kepada masyarakat bantaran yang lebih menyukai memilih hidup diatas sungai dengan membuat rumah panggung dari Kayu ulin yang sangat kuat walau terendam air bertahun tahun.

        Selama dalam perjalanan aku merekam banyak catatan tentang kegawatdaruratan pendidikan di negara kita. Namun sebagai pendidik kita kok santai santai saja , dan menganggab tidak ada masalah apa apa. Kegawatdaruratan pendidikan kita berinti dari ketidakmampuan kita dalam menterjemahkan kemampuan berliterasi, baik literasi bahasa, baca, tulis, sains, numerik maupun budaya. Kalau masyarakat kita literat tentu paham dengan tulisan di sepanjang sungai" dilarang membuang sampah sembarangan" dan pasti tidaka akan ada yang melakukan hal ituKalau masyarakat kita literat juga paham bahwa larangan itu membawa dampak yang akan merugikan.namun kenyataannya masyarakat kita tidak mampu menterjemahkan secuil tulisan tersebut.

Setelah seharian melaksanakan city tour akhirnya kami chek in di Hotel. Swiss Bell Hotel menjadi pilihan rombongan kami untuk melepas penat.Swiss Bel merupakan salah satu hotel berbintang yang terdapat di Kota Banjarmasin. Sebelum masuk kamar ketua rombongan menandatangani sebuah kontrak perjanjian untuk tidak merokok di dalam kamar

Didalam Kamar ber "AC" tertera dengan jelas No Smooking 

       For Sale untuk dua botol Aqua besar yang bertengger di atas meja namun selain botol minuman yang dijual juga disediakan dua botol minuman aqua berukuran tanggung tak lupa minuman dingin didalam lemari es mini melengkapi kenyamanan didalam kamar hotel berbintang.

       Hari kedua perpelanconganku dimulai dengan menikmati wisata air mencoba merasakan kehidupan Sungai Martapura dengan menaiki perahu klothok sebagai sarana transportasi turun temurun di sepanjang sungai.

       Dengan sedikit membungkuk karena postur tubuhku yang semampai membuat agak susah memasuki perahu klothok karena atap perahu dibuat rendah . Agak grogi juga. Tujuan kami adalah pusat pasar apung di ujung sungai lebih kurang sekitar 10 km dari hotel menyusuri sungai.

       Sepanjang sungai pemandangan yang disuguhkan sungguh membuat aku tunduk kehadapan Rabbku , rumah sederhana terbuat dari Kayu Ulin menghiasi sepanjang sungai, pemandangan lain yang agak bikin gemetar di sepanjang sungai adalah kebiasaan mandi di tepi sungai tanpa ada penutup, tempat mereka mandi. Sungai Martapura digunakan untuk mandi, mencuci baju dan mencuci perabot rumah.

      Setelah lelah menyusuri sungai akhirnya kami disuguhkan dengan kehidupan warga Banjar dalam kegiatan jual beli pada pasar apung, wanita wanita paruh baya berebut mendekati perahu klothok para wisatawan, mereka menjajakan ikan tawar semacam ikan gabus, patin dan buah jeruk. Sangat sederhana, mereka berjuang menganyuh perahu mendekat,menjajakan dan saling menawar lalu menjauh. Aku semakin menunduk. Mengingat Rabbku mengingat nikmat Tuhanku kepadaku mengingat pengabdianku mengingat pekerjaanku dan mempertautkan pada perjuangan wanita sederhana yang tangguh dihadapanku. 

      Aku membeli ikan "upacara" yang sangat menarik perhatianku. Kenapa kusebut ikan upacara karena ikan mungil itu dibuat berbaris rapi. Aku juga membeli beberapa ikat rambutan segar hasil kebun mereka, selain itu aku juga membeli tas belanja dari tikar pandan yang ramah lingkungan lengkap sudah oleh oleh dari pasar apung.Budaya temurun yang hampir luntur. 

kami kembali ke hotel menyusuri sungai dengan berbagai rasa didalam dada.

Ketika guide menyampaikan bahwa waktu untuk check out kurang dua jam dengan bergegas kami kembali ke kamar berkemas dan kembali lagi menunggu di Loby. Disinilah cerita tentang pentingnya literasi sangat dirasakan oleh rombongan kami. Ada apa dengan rombongan kami? Ternyata semua peserta tour yang menyerahkan kunci dan telah menyalahi tata tertib hotel mendapat teguran tidak hanya teguran bahkan ada temanku yang harus membayar carge sebesar satu juta rupiah gegara merokok didalam kamar. Wowww dengan terbelalak kami semua tak percaya tapi kami harus patuh kepada peraturan hotel setelah ditunjukkan kontrak selama kami menginap disana. Yang penting lagi adalah tulisan besar “No Smoking “ yang tak dihiraukan oleh peserta rombongan kami berakibat fatal. Belum tuntas kami membahas charge, disisi lain beberapa peserta rombongan harus membayar minuman Aqua yang bertengger diatas meja berkalung For Sale. Lantas apa yang salah dari kejadian menggelikan ini? Jawabnya adalah ketidakmampuan masyarakat kita menterjemahkan literasi. Larangan maupun himbauan walau hanya secuil tak dihiraukan. Dan akhirnya aku setuju dengan pernyataan bahwa negara kita dalam kegawatdaruratan pendidikan. Dan satu pertanyaan apa yang harus kita lakukan sebagai insan pendidik yang mengawal generasi emas 2045???? Jawabnya cuma satu “Hidupkan ,biasakan dan budayakan Literasi. Selamat Berliterasi...

Masuk