Berebut Tarawih

Lazim terjadi di masyarakat, dua jenis tarawih. Dua puluh dan delapan rakaat. Keduanya mempunyai dasar acuan hukum. Sebuah keluarga berusaha menggunakan silih berganti, bagaimana keseruan anak-anaknya berebut tarawih?

Berebut Tarawih

“Pak dapat berapa?” Tanya Fachry, anak keduaku, laki-laki.

“Dapat tujuh,” Shofiya, kakaknya menyahut.

“Tidak! Dapat enam!” Sahut Fachry, memastikan hitungan bilangan tarawihnya.

“Aku lho menghitung, tarawihnya dapat enam kali.” Fachry menegaskan bahwa hitungannya tidak keliru. Maksudnya adalah enam kali salaman, atau shalat tarawih yang sudah dikerjakan sebanyak dua belas rakaat. Perdebatan kakak dan adik terhenti, ketika imam membaca “Ashsholaatu jami’ah!” untuk selanjutnya takbiratul ihram shalat tarawih berikutnya.

****   

Malam pertama shalat tarawih Puasa Ramadhan tahun ini (karena berbagai pertimbangan), aku dan keluarga shalat jamaah tarawih di musholla rumah. Aku bertindak sebagai imam. Istri dan ketiga anakku sebagai makmum. Lazim berlaku di masyarakat daerah kami pada rakaat pertama setiap shalat tarawih, bakda Surat Al-Fatihah membaca surat ke seratus dua hingga seratus sebelas (sepuluh surat) dalam Al-Quran.

Praktis Surat At-Takatsur sampai dengan Surat Al-Lahab dapat dijadikan tanda hitungan banyaknya shalat tarawih yang telah dikerjakan. Untuk rakaat keduanya, surat pendek yang dibaca setiap setelah Surat Al-Fatihah adalah Surat Al-Ikhlas. Jika melaksanakan tarawih di musholla kampung atau masjid, lazim ada petugas (bilal) yang membaca sholawat diantara sholat tarawih. Lafadz sholawat yang dibacakan juga dapat digunakan sebagai tanda, banyaknya sholat tarawih yang telah dikerjakan.

****

“Delapan!” kata Shofiya, si Kakak.

“Tujuh!” Adik Shofiya, Fachry, menyahut.

“Delapan!”

“Tujuh!”

“Delapan!”

“Tujuh!”

“Delapan!”

“Tujuh!” Kata kedua anakku saling bersahutan. Sementara si kecil yang masih berusia tiga tahun berusaha melerai kedua kakaknya berdebat.

“Tujuh ya Pak?!” Tanya Fachry padaku meminta konfirmasi (tepatnya mencari pembenaran). “Delapan nggih Pak?!” Shofiya pun tidak mau mengalah, meminta pembenaran.

“Bapak tidak menghitung, pokok nanti kalau sudah sampai pada Surat Al-Lahab, Tabbat, berarti sudah dapat sepuluh.” Kataku tidak ingin membela keduanya.

“Ayo-ayo sudah, segera tarawih!” Ibu anak-anak menyudahi. Sambil berucap, “Ashsholaatu jaami’ah!”

Kami pun serempak berucap, “Laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziem.” Selanjutnya melaksanakan sholat jamaah tarawih.

****

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini aku mengharuskan anak-anak untuk sholat tarawih dua puluh rakaat, ditambah dengan tiga rakaat sholat witir. Jika di tengah-tengah lelah, anak-anak aku persilahkan sholat tarawih sambil duduk.

Tahun sebelumnya, aku membebaskan anak-anak untuk memilih delapan rakaat tarawih dengan tiga rakaat sholat witir, atau dua puluh rakaat tarawih dengan tiga rakaat sholat witir. Dan sudah bisa ditebak, anak-anak pasti memilih delapan rakaat sholat tarawih dengan tiga rakaat sholat witir.

Aku beranggapan anak-anak memilih yang lebih sedikit, belum berpikir alasan atau dalil yang mendasari kedua perbedaan tersebut. Karenanya aku putuskan tahun ini, tarawihnya harus dua puluh rakaat. Toh, lamanya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan sholat tarawih dengan delapan atau dua puluh rakaat relatif sama. Jika melaksanakan sholat tarawih delapan rakaat, maka surat-surat bakda membaca Surat Al-Fatihah yang dibaca adalah awal-awal juz tiga puluh. Surat An-Naba’, An-Naziat, ‘Abasa, At-Takwir, dan seterusnya. Harapanku anak-anak yang sedang dalam proses menghafalkan juz tiga puluh dapat semakin kuat hafalannya. Amin. (*)