BAHAGIA ITU PENTING

BAHAGIA ITU PENTING
BAHAGIA

Bahagia Itu Penting

 

Hidup di dunia memang singkat. Namun apakah kita tidak bisa melalukan apapun? Ada orang berkata “Hiduplah di dunia ini menjadi seorang pemenang”, siapakah itu? “Yakni orang yang punya impian dan selalu meraih target yang diinginkan”. Oke, boleh memang kita bermimpi dan mengejar mimpi itu dengan target yang kita inginkan. Namun, bisa jadi karena kita terlalu berorientasi pada target itu maka kita sering melupakan hal yang sepele namun penting yakni proses menuju target itu. Dan lebih parahnya lagi kita lupa untuk bahagia. Sebab, kita kurang menikmati apa yang kita kerjakan dengan terlalu menguras diri dan memaksakan diri untuk melakukan aktifitas itu, padahal diri kita sudah tidak bisa dalam kondisi seperti itu. Apakah kondisi tersebut terjadi dalam kehidupan kita setiap hari, setiap minggu, setiap bulan setiap tahun, atau bahkan seumur hidup? Astagfirullah.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi bukan hanya sebatas pada tugas/kerja yang kita selesaikan, ada yang lebih penting daripada itu. Yakni, apakah kita sudah benar-benar bisa merasakan bahagia? Peran apapun yang kita jalani saat ini apakah kita sudah menjalaninya dengan perasaan happy?

Lantas apa makna dari bahagia itu? Adalah perasaan dalam hati/jiwa tenang, damai, rasa puas/senang, tentram dan nyaman. Paling minimal bahagia itu adalah kondisi dimana kita tidak merasakan kesedihan. Karena lawan bahagia adalah sedih. Tidak ada kebahagiaan dalam hati kita bila merasa sedih bahkan sampai kita merasa pusing hingga selalu tampak murung. Namun akhir-akhir ini ada peristiwa yang sangat mengkhawatirkan. Ada orang yang selalu tampak ceria, bahagia, suka bercanda dengan keluarga/teman dan tidak mengurung dirinya, tetapi memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lantas apa sebenarnya yang terjadi?

Bisa jadi terjebak dalam derasnya pusaran arus modern yang menuntut untuk selalu tampil sempurna. Seperti halnya punya pekerjaan bergengsi, berpenghasilan besar, berpendidikan tinggi dengan nilai terbaik, namun dituntut harus punya barang-barang mewah meski terpaksa harus kredit atau hutang kesana-kemari dan begitu banyak lainnya tekanan dari perkembangan zaman yang akhirnya membuat kerdil jiwa kita.

Selain itu, muncul pula fakta yang unik yakni ingin tampil mempesona dihadapan orang lain, tetapi sejatinya kondisinya tidak sebagus yang dilihat. Kita pun sering memikirkan omongan orang lain dengan menyembunyikan rasa sedih itu (menutupinya dengan topeng) dan kita tidak lagi menjadi manusia yang jujur. Segala hal dilakukan agar tetap hebat, tangguh, kuat, padahal sebenarnya lemah dan rapuh. Boleh memang kita berusaha untuk tampil mempesona/sempurna. Tapi lakukanlah semua itu hanya untuk Allah semata, bukan untuk manusia. Apabila kita melakukan untuk Allah semata maka yang semula diri kita sedih akan menjadi bahagia, karena hakekatnya bahagia itu Allah yang memberi dan Allah pasti tidak ingin hambanya bersedih hati. Namun, apabila kita lakukan untuk manusia pasti bukan bahagia yang kita dapatkan malah semakin sedih hati yang kita rasakan.

Bagiamana agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan dari Allah? Yakni syukuri apa pun yang telah Allah amanahkan kepada kita dan ikuti prinsip-prinsip hidup yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Karena itulah yang sangat kita butuhkan agar tak terjebak pada kelelahan jiwa yang berlarut-larut. Juga jangan sampai semua kesibukan kita justru malah mengeraskan hati, mengeruhkan pikiran, dan harus waspada agar tidak melemahkan iman.

Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, bagaimana cara kita menyikapi hasilnya, dengan bahagia. :)

 

 

@ucupsal.