Aku dan Bapakku

Aku dan Bapakku

Aku dan Bapakku

“Aku mau cepat berbaring,” teriak Bapak malam itu. Aku tak bergeming sedikitpun. Hatiku serasa beku dan tak ingin mendekat. Padahal Bapak berteriak kencang membangunkan malam di rumahku. Hatiku menangis. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu apa yang mesti aku ucapkan kepada Bapakku. Suamiku dengan sabarnya membersihkan kamar untuk bapak. Suamiku bahkan tidak menyuruhku untuk membantunya. Suamiku tahu benar perasaanku.

Malam semakin larut. Suamiku masih saja melayani bapaku dengan segala perintah-perintahnya. Tiba-tiba bapak teriak memanggil namaku berkali-kali. Terpaksa aku keluar dan menyapanya. “Nggih pak,” jawabku (dalam bahasa jawa). “Kowe lagi ngopo?” tanya bapak. Dengan ketusnya aku menjawab, “Kerja!!!!!” sambil berlalu dari kamarnya.

Hatiku perih menjawab pertanyaan bapak dengan bahasa yang tidak sopan malam itu. Namun, aku selalu saja teringat perlakuan dan teriakan bapak waktu itu. Aku tidak ingin terjadi lagi. Apa ini yang namanya trauma. Tidak...... jangan .... bagaimanapun dia bapakku. Aku lahir darinya, aku bisa di dunia karenanya. Hatiku berteriak meronta dan tak ingin melihatnya saat itu. Aku tak sanggup menahan perihnya hatiku malam itu.

Akhirnya, bapak bisa tenang dengan pelayanan suamiku. Bapak bisa tidur untuk sementara. Tiba-tiba aku dengar suara  erangan orang kesakitan memanggil namaku dan nama suamiku. Aku bangunkan suamiku, “Dengarkanlah,,,sepertinya itu suara bapak,” bisikku pelan. Suamiku langsung bangun dan menghampiri kamar bapak. “Wonten nopo, pak?” kudengar suamiku menenangkan bapak. “Punggungku sakit, tulung aku kerokono,” pinta bapak pada suami. Tanpa aba-aba dariku, suamiku menuruti pinta bapak. Ditengah malam yang seharusnya dia istirahat, dia rela memijit punggung bapakku dengan sangat lembut. Memang suamiku adalah suami yang luar biasa. Dia mencintaiku dengan segala kekuranganku. Tanpa pamrih apapun dia melakukan semua dengan ikhlas. Sungguh luar biasa suamiku.

“Nopo pak e dereng dhahar?” tanya suami.

“Durung mas,” jawab bapakku  lirih.

“Nggih pun , mangke kulo tumbaske maem riyen njih pak,” suara suamiku lembut.

Benar saja, setelah selesai dengan bapak suamiku langsung keluar membelikan makanan. Suasana jalan lengang dan tak ada satupun  kendaraan berlalu lalang.

Tak berapa lama suamiku pulang membawa makanan. Dengan kata-kata lembut suamiku menyuruh bapak makan. “Monggo pak, di dhahar rumiyen” pintanya.

Selama itu pun, aku hanya terpaku dan tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Asal bapak tahu, aku sangat sayang bapak. Selamanyaaa .......