Warisan Sejarah Candi Muara Takus di Provinsi Riau

Warisan Sejarah Candi Muara Takus di Provinsi Riau
Warisan Sejarah Candi Muara Takus di Provinsi Riau

Warisan Sejarah Candi Muara Takus di Provinsi Riau

 Oleh.

Nurhabibah

 

Hari ini udara begitu panas. Sejak pandemi hanya bisa berdiam diri di rumah. Sudah lama sebenarnya ingin berkunjung ke Candi Muara Takus, namun berbagai kegiatan akhirnya tertunda terus. Ternyata Riau mempunyai sejarah yang tak kalah dibanding di daerah Jawa tentang peninggalan sejarah kerajaan yang berupa stupa atau candi. Candi yang di daerah jawa contohnya Candi Borobudur, Prambanan dll sudah di kunjungi. Akhirnya di mulailah menyusuri perjalanan ke Candi Muara Takus.

 

Candi Muara Takus merupakan bukti sejarah bagi masyarakat Riau bahwa adanya peninggalan sejarah agama Budha di tanah air. Lokasi Situs ini tepatnya di daerah XIII Kota Kampar di kabupaten Kampar Provinsi Riau. Sekitar 135 kilometer atau sekitar empat jam dari kota Pekanbaru. Pemandangan sekitar candi sangat indah dikelilingi pohon rindang dan hijau..

Candi Muara Takus merupakan bukti peninggalan kerajaan Sriwijaya. Candi Muara Takus terletak di sekitar muara sungai kampar. Berbagai ahli sejarah mengatakan bahwa candi ini diperkirakan di bangun abad ke-4, dan ada juga menggap abad ke-7, ke-9 dan ke-11 atau diperkirakan pada abad ke-4 sampai abad Ke-11. Sejarah membuktikan bahwa Candi Muara Takus dibangun masa pemerintahan Sriwijaya yang merupakan bukti kebesaran Kerajaan Sriwijaya pada masa itu. UNESCO telah mengakui kompleks Candi Muara Takus sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 2009.

 

Menurut informasi dari pengelola kompleks Candi Muara  bangunan tempat suci masa berkembanganya agama Budha di Indonesia. Situs berukuran 74x74 meter dengan tinggi sekitar 80 sentimeter yang terbuat dari batu putih. Di luar tembok di bangun dari tanah yang berukuran 1,5x1,5 hingga ke sungai kampar. Di dalam kompleks candi ada beberapa candi seperti candi Sulung, Candi Mahligai, Candi Palangka dan candi Bungsu.

 

Bangunan utama atau sulung atau disebut Candi Tua yang memiliki ukuran 32,8 meter x 21,8 meter. Yang terbuat dari campuran pasir, batu bata yang dicetak. Candi tua merupakan candi yang terbesar yang memiliki tiga bagian, yaitu atap, badan dan kaki. Pada bagian kaki terbagi menjadi dua, yang pertama memiliki 2,37 meter, sedangkan bagian kedua memiliki tinggi 1,98 meter. Terdapat tangga masuk dari dari bagian timur yang memiliki lebar 4 meter dan bagian barat selebar 3,08 meter yang di jaga oleh patung singa. Candi Tua berbentuk lingkaran dengan diameter lebih kurang 7 meter persegi dengan tinggi 2,5 meter. Pondasi Candi Tua berbentuk persegi dengan ukuran 31, 65 meter x 20,20 meter yang memiliki 36 sisi. Walaupun sebagian sudah rusak. Candi tua dibangun menggunakan batu pasir (tuff) dan batu bata cetakan. Walaupun sudah beberapa kali dipugar.

 

Bangunan kedua disebut Candi Mahligai yang berbetuk bujur sangkar yang berukuran 10,44 meter x 10,6 meter. Di bagian tengah terdapat sebuah menara yang mirip yoni dengan tinggi 14,3 meter. Candi Mahligai memiliki bangunan yaitu bagian atap, bagian badan, dan bagian kaki. Candi ini memiliki dasar persegi. Di sisi lain sekitar bangunan terdapat banguna utama menghadap ke selatan. Dalam bangunan ini terdapat ukiran lotus ganda di bagian alasnya, sedangkan di tengahnya terdapat menara berbentuk silinder yang terdiri dari 36 sisi, bagian dasar sisi memiliki kelopak bunga, di atas Muara Takus berbentuk lingkaran yang mirip yoni. Di sudut dasar candi terdapat patung singa yang duduk yang terbuat dari batu andesit. Relief-relief pada puncak menara terdapat lukisan daun oval.

 Di dalam kompleks candi ada beberapa candi yaitu candi Mahligai, Candi Tua, Candi Bungsu berada di timur candi Mahligai yang berjarak 3,85 meter. Candi Bungsu terbuat dari batu bata merah yang memiliki panjang 13,2 meter, lebar 16, 20 meter. candi Bungsu mirip dengan candi Sulung namun di atasnya berbentuk persegi, bagian timur terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu putih dan ada beberapa stupa yang berukuran kecil. Bagian atas candi ini mempunyai 20 sisi. Dan Candi Palangka memiliki ukuran 5,10 meter dan lebar 5,7 meter yang memiliki tinggi kurang dari 2 meter. Dimana terletak disebelah timur dari candi Mahligai. Bangunan ini sepenuhnya terbuat dari batu bata yang menghadap ke utara.

 

Candi Palangka dan Candi Bungsu terletak diantara candi Tua dan Mahligai.  Hingga sebagian mengatakan bahwa candi muara takus merupakan perpaduan antara budaya Budha Hindu dimana pada Candi Mahliga terdapat kelamin laki-laki (lingga) dan perempuan (Yoni).

Menurut sejarah candi Muara takus merupakan candi yang tertua ditemukan di Pulau Sumatera yang bernuansa Budha. Terlihat dari stupa, merupakan stupa dari Buddha Gautama yang terdapat di candi Sewu yang merupakan candi agama Budha. Hal ini terbukti dengan adanya yoni dan lingga di candi mahliga yang menggambarkan jenis kelamin perpaduan Budha dan Syiwa yang sesuai dengan arsitektur candi-candi di Myanmar.

 

Disebut candi Muara Takus menurut pendapat karena adanya sungai kecil sebagai muara di Sungai Kampar dimana nama sungai tersebut disebut sungai takus. Sedangkan menurut pendapat lain mengatakan bahwa nama muara takus diambil dari dua kata yaitu “ Muara” yang berarti tempat akhir aliran sungai yang cukup besar. Sedangkan takus merupakan diambil dari bahasa Cina yaitu Takuse. Ta dalam bahasa Cina berarti besar, ku memiliki arti tua yang berarti kuil, hingga dirangkai menjadi satu kalimat sebuah kuil atau candi tua yang berukuran besar yang terdapat di Muara Takus.

 

Dalam peradaban Hindu dan Budha memiliki konsep setiap bangunannya sesuai dengan peribadatan yang memiliki sumber air yang suci. Dimana air merupakan sebuah media yang digunakan dalam upacara ritual dalam agama. Untuk menjaga kesucian dari air, dimana pada bangunan atau brahmasthana yang harus dijaga dengan baik sesuai dengan arah mata angin yang harus di rawat. Di sinilah disebut dengan dewa lokapala yang menjaga dan melindungi dari perpaduan antara alam nyata dan alam ghoib yang disebut dengan wastupurumasamandala.

 

Dari segi arsitektur bangunan Candi Muara takus berbeda. Dimana kebanyakan candi di jawa menggunakan batu andesit sebagai unsur utama dalam bangunan. Sedangkan candi muara takus terbuat dari perpaduan batu bata dan batu sungai yang berasal dari tanah liat yang diambil dari desa Pongkai yang berjarak sekitar enam kilometer dari candi. Sedangkan di dalam kompleks candi terdapat sebuah gundukan yang diperkirakan tempat untuk membakar tulang manusia, dan di luar situs ada beberapa bekas bangunan yang tidak berbentuk lagi.