TELEPON (Pentigraf)

TELEPON (Pentigraf)

Dalam rinai gerimis pagi ini, teleponku berdering. Dering telepon itu berhenti karena aku terlambat menerimanya. Kulihat di riwayat telepon masuk. Tak ada nama. Hanya ada nomor yang belum tersimpan di memori telepon. Dering telepon di pagi hari biasanya penting. Urusan dinas, kabar dari anak-anakku yang di luar kota atau sekadar informasi tagihan rekening langganan sudah hampir habis tenggat waktu bayar.

 

"Hallo, mohon maaf tadi terlambat respon." Ternyata yang menelponku adalah seniorku. Sudah lama kami tidak bertemu. Banyak sekali yang dibicarakannya. Dan aku hanya mendengarkannya sambil membalik-balik halaman arsip di memori pikiranku. Seniorku yang manakah? begitu banyak aku punya senior.

 

Ternyata kabar telepon pagi ini sangat mengejutkan. Aku harus hadir dalam meeting online. Akan disampaikan pada meeting itu tentang kebijaksanaan politik anggaran. Bisa jadi aku menjadi salah satu yang terdampak dari kebijakan itu. Pengoptimalan kinerja karyawan harus dilakukan karena keterbatasan penerimaan anggaran. Hanya ada dua pilihan: selamatkan keluarga dan mitra kerja atau rasionalisasi karyawan. Kamu pilih yang mana? Ya Allaah, Hidup memang harus memilih. (SS)