Suratan Takdir (Pentigraf)

Suratan Takdir  (Pentigraf)
Sumber: Freepik Premium

Suratan Takdir

(Pentigraf)

 

Aku terbaring lemah, di sofa rumahku. Suasana malam yang lengang hanya berirama jangkrik yang bersenandung. Kupeluk anakku, sambil kutatap ibuku yang tersungkur di depanku. Bibirku tak berhenti bergerak membaca berulangkali surat Al-Ikhlas. Aku pasrah sekaligus waspada.

“Kenapa kalian diam? kalian semua akan lenyap dari rumah ini.” Mata ayah dari ketiga anakku itu seperti tatapan yang tak kukenal. Ia berusaha membuka lemari berisi parang  yang telah ia asah beberapa hari lalu. Aku bergidik ketakutan, mataku tertuju pada kamar bayi kembarku yang masih terlelap. Aku hampir putus asa, ingin kuberlari, namun ibuku tak kuasa. Kakinya tak bisa bergerak. Akankah ibuku menjadi tumbal? “Brakk” tiba-tiba pintu rumah depan terbuka. Kakek dari anakku datang menolong. Ia bergegas masuk ke kamar dan pukulan tangan menghunjam tubuh lelaki itu. “Setan! kamu ingin membunuh cucuku? Hah?” beberapa detik kemudian adik iparku ikut merangsek masuk, bersama dengan beberapa keluarga yang lain. Derai tangisku tak terbendung lagi. Dadaku seperti terbebas dari pijakan batu besar. Aku bisa bernapas. Kupeluk ibuku yang tersungkur di tanah. Lelaki itu pun dibawa pergi oleh ayahnya.

Seminggu berlalu, suamiku bersimpuh sujud di depanku. Menangis, ingin mengajak rujuk kembali. Namun peristiwa itu tak pernah kulupakan. Puncak dari kejadian-kejadian sebelumnya. Begitu tega, ia memukul ibuku yang tak berdaya. Berniat membunuh kami semua dengan parang yang telah ia asah. “Perintah Guru” katanya. Guru apa yang memerintahkan perbuatan sekeji itu? Setelah ikut dengan perkumpulan itu, suamiku berubah total. Tiap malam pekerjaannya adalah menginap di pekuburan keramat. Sifatnya juga berubah, beberapa waktu pernah terdengar ia berbisik ketika mengasah parangnya di rumah belakang “TUMBAL!” Kulepas dirimu ikhlas. Ku sanggup merawat ketiga anakku sendiri. Tuhan membenci perbuatan ini, tapi Ia sekaligus menghalalkannya. Semua itu memiliki hikmah. Kurelakan melepas ikatan sakral ini demi kebaikanku dan anak-anakku.