SALAH JURUSAN!

SALAH JURUSAN!
Sumber gambar: ugbemfti.org

            Apa Anda salah jurusan? Kalau tidak syukurlah. Kalau iya selamat kita senasib wkwkwk.

Kelas 3 SMA adalah masa super galau. Kuliah dimana? Jurusan apa? Mending kerja atau buka terop ya? *eh. Awalnya saya bimbang kuliah jurusan bahasa inggris atau PAI. Namun beberapa guru dan kawan menyarankan PAI. Singkat cerita akhirnya saya terhasut.  

Mimpi kuliah di UIN Malang tak semudah membalik tangan. Apalagi prodi PAI bersaing dengan siswa jebolan pesantren dan MAN. Jujur saya kewalahan. Belajar rumpun ilmu-ilmu islam yang awam. Apalagi saya lulusan SD, SMP, dan SMA (belajar agama kurang mendalam). Ditambah menyelami bahasa arab. Nekad parah belajar via online!

Jatuh bangun menerpa. Ragam jalur menolak mentah-mentah. Hingga titik darah penghabisan. Saya pun mengikuti jalur mandiri. Lelah bergelut dengan ilmu agama saya mengikuti jalur mandiri prestasi. Tes santai melalui dua sesi. Sesi pertama mengerjakan TPA dan sesi kedua wawancara perihal prestasi.

Pengumaman tiba, sujud syukur diterima di UIN Malang. Tapi jurusan tak sesuai. Hasil bulat diterima pilihan ke-2 prodi PGMI. Pupus! Mimpi kuliah prodi PAI tinggal kenangan. Saya tipe orang yang fokus (bahasa kerennya setia ehe). Sekali membidik mimpi. Tak berminat melirik ke lain hati. Namun kelemahannya kala ekspektasi tak senada rasa sakitnya pun berlipat. Sebagaimana saat pendaftaran kuliah. Fokus utama PAI pilihan selainnya ala kadarnya. Formalitas belaka tanpa pertimbangan matang. Mirisnya takdir tidak memihak. Hiks kebayang gimana sakitnya?

Awal kuliah benar-benar hampa. Belajar di kelas bagai tak ada nyawa.  Namun seiring waktu saya belajar. Berkaca dari orang-orang sekitar. Berapa banyak yang tidak bisa kuliah? Berapa banyak yang terlempar di kampus non negeri? Saya mencoba merenungi pengorbanan orang tua membiayai kuliah. Merenungi beberapa teman yang sama salah jurusan. Bahkan ada dosen yang sempat berkisah korban salah jurusan. Sedikit mengobati luka. Saya tergerak menata mindset. Sadar takdir yang berlaku adalah yang terbaik. Mencoba bangkit, menikmati, hayati, dan syukuri.

            Kuliah jurusan PGMI tak seburuk praduga. Kami dididik menjadi calon guru yang aktif dan ceria. Menyesuaikan dunia anak SD/ MI. Kami mendapat mata kuliah pramuka, seni tari, musik, dan olahraga yang menyenangkan. Suasana pembelajaran diwarnai suka cita. Kala micro teaching biasa diselipkan yel-yel, jargon, ice breaking, menyanyi, dan game seru.  Selain itu para dosen biasa menyinggung dunia parenting. Ilmu aplikatif yang sangat bermanfaat. Bekal menjadi orang tua di masa depan.

            Salah jurusan memberi banyak pelajaran. Menyadarkan diri agar lebih open minded. Tidak memandang jurusan apapun sebelah mata. Semua jurusan adalah baik. Tidak ada jurusan yang buruk (tak berfaedah). Segala jurusan di dunia ini memiliki manfaat masing-masing. Saling melengkapi dan berkolaborasi membangun peradaban. Segala ilmu pengetahuan adalah berharga. Terlebih bila diamalkan dan diajarkan. Benar kata orang bijak haus ilmu tak akan sia-sia. Bukankah semua ilmu adalah ilmu Tuhan?

 

The last I say....

“Salah jurusan bukan bumerang lulus on time.”

 

Semoga uraian singkat tersebut bermanfaat. Baarokallah^^