MENULIS PUISI TERNYATA ADA PERANGKATNYA

MENULIS PUISI TERNYATA ADA PERANGKATNYA

Menulis puisi ternyata mudah. Bahan bakunya hanya kata, dan kata. Perkakasnya bisa penamu bisa gawaimu. Kapan menulisnya? kapan-kapan sebisamu. Apa yang akan ditulis adalah apa yang ada dalam pikiranmu kemudian dipindahkan ke atas kertas atau ke dalam gawaimu. Mudah kan?

Yang menjadi persoalan adalah apakah puisi itu menjadi bermakna atau hanya sederetan kata yang dicocok-cocokan dengan kaidah yang ada. Lho, katnya menulis puisi itu tak perlu menganut teori. Baru setelah puisi jadi kita belajar mengklasifikan berdasar teori. Kalimat itu juga tidak salah. Tergantung puisi apa yang akan ditulis. Setiap puisi sejatinya memiliki kaidah sendiri-sendiri.

Dalam puisi yang harus diperhatikan adalah kalimat yang deskriptif, puisi yang epik-naratif-prosaik dan menggunakan perangkat puitika. Sehingga puisi itu tidak terang benderang. Ibarat tukang kayu mau memotong kayu pakai gergaji hasilnya pasti lebih bagus jika memakai parang.

Sudahlah tetaplah menulis. Biarkan puisimu menemukan takdirnya.
Barokallahufikum wal afiah.

Salam,
Suprihationo Sardi