MENULIS PUISI IBARAT MEMBANGUN SEBUAH RUMAH

MENULIS PUISI IBARAT MEMBANGUN SEBUAH RUMAH
Membangun serumah (gambar;blog.made4youimoveis.com.br)

 

Catatan berikut ini merupakan hasil sharing ngobrol asyik seputar puisi bagian kedua (selesai).

Bagian pertamanya sudah saya posting kemarin. Sebelumnya dua materi ini pernah saya share di facebook, dengan judul yang sama pada bulan Maret lalu.

 

Ngobrol Asyiik Seputar Puisi adalah WAG yang menampung para penggemar puisi se Indonesia. Mereka berbagi pengetahuan dan ketrampilan bagaimana menghasilkan karya puisi yang baik dan bermanfaat. Puisi-puisinya tentu saja memperkaya khasazah susastra Indonesia.

 

MENULIS PUISI IBARAT MEMBANGUN SEBUAH RUMAH

Masyaa Allah. sampai segitunya ya.

Harus punya impian dulu, ada modalnya, ada desainnya minimalis atau istana, selain itu juga ada IMBnya, ada surat-surat pajak dll. Yang tirik-tirik ketentuannya. Semua itu ibarat ketentuan wajib yang harus dipenuhi sebelum membangun rumah. Dan tindak lanjutnya satu persatu material dipilih, dipadukan dengan rasa dan karsa agar dapat membawa pesan kepada pemilik rumah atau yang menempatinya.

Demikian juga dengan menulis puisi. Menulis puisi pun banyak teorinya. Tapi setidaknya awali dulu dengan impian yang kuat bahwa aku harus menulis puisi. Sejadinya. Satu persatu material berupa diksi pilihan, desain dan muatan pesan penulis untuk pembacanya.

 

Haruskah menulis puisi seketat teorinya?

Sebagai pemula boleh saja menganut satu teori yang menurutnya mudah dipahami dan dilakukan. Menulislah dengan mengaplikasikan satu teori ke teori berikutnya.

Ibarat kita dulu waktu belajar naik sepeda. Mulai dari sepeda roda empat, ganti roda tiga, ganti lagi roda dua. Kecepatan dan ktrampilannya sudah meningkat, demikian juga rasa bangga tumbuh karena bisa berbuat kebaikan. Bisa mengantar adik ke Sekolah. Membantu ibu membelikan gula dan beras di warung PKK lebih cepat dan ringan. Puas deh rasanya.

Tapi manakala kita diminta naik sepeda roda satu, maka kita kembali lagi menyesuaikan dengan kompetensi yang telah kita kuasai. Bahkan harus ada kompetensi yang kita kembangkan.

Misal, ketika naik sepeda roda dua kita bisa lakukan tangan lepas stang. Maka ketika kita naik sepeda roda satu benar-benat tanpa stang. Keseimbangan yang kita pelajari dari awal naik sepeda benar-benar harus dikuasai dan dikembangkan. Apalagi kalau naik sepeda roda satu itu sambil main sepak bola. Seru deh kapan-kapan dicoba, yuk!

Semoga gak mboseni ya, tulisan saya.


Bagaimana dengan kita, ketika akan menulis puisi?

Menulislah puisi dengan hati (Budi Maryono,2019), yang berminat saya masih ada stok terbatas nanti WApri ya… Saya sendiri tidak fanatik dengan aliran teori-teori berpuisi.

Yang penting saya menuliskan apa yang saya rasa, apa yang saya pikirkan dan pikiran ini harus disampaikan dalam syair-syair yang bisa menggugah hati pembacanya. Bagaimana pun syair puisi itu bukan wahyu Tuhan. Tapi kita boleh mencoba memuisikan makna wahyu Tuhan yang terjemahannya atau tafsirnya sahih dan kita tidak boleh mengaburkannya.

Lho… kok jauh banget ya kita ngobrolnya.

 

Balik lagi ke puisi, yuk!

Meski tidak semua buku puisi habis saya baca, tapi saya suka gaya AKU-nya Chairil Anwar, atau Puisi mbelingnya Sutardji CB: Tragedi Sihka-Winka, atau Sajak Seonggok Jagung-nya Si Burung Merak Rendra, pun Taufik Ismail: Malu Aku Jadi Orang Indonesia juga Gus Mus tentang Ibu, dan terakhir Jenderal Gatot Nurmantyo tentang Corona.

Pendek kata saya lakukan menulis dengan tiga N: Niteni, Niru, dan Nulis dewe.

Niteni bahwa setiap penulis memiliki gaya dan caranya sendiri. Niru, menyontoh puisi mana yang gayanya mudah diikuti, dan kemudian Nulis dewe, menulis sendiri gagasan ide yang disaring dari sekitar atau dalam diri sendiri dieksplorasi dalam diksi-diksi pilihan.

Tentu saja tetap dalam kewaspadaan jangan menjadi plagiat. Itu tidak baik bagi diri sendiri atau orang lain.

Terakhir saya menulis puisi hasil kerja keras di WAG Ngoas Puisi ini.

Buku Kumpulan Puisi Berkeleluasaan yang saya beri judul WEDUS GEMBEL.

Puisi-puisi saya di buku ini tidak menganut teori berpuisi. Kalau pun ada persis teori itu kebetulan. Maklum jika ada hal yang kurang pas, karena saya bukan ahli sastra. Puisi yang saya tulis itu gaya bebas kekinian, liar menangkap ide mulai dari cinta, diri, lingkungan, dan pencarian taubat melalui shalat. Apakah yang Anda cari dalam hidup?

Semoga dengan membaca buku ini Anda menemukannya, sebagaimana mbah Maridjan menemukan arti kesetiaan dan Tuhannya, (halaman17).

"Melalui buku yang kini berada di tangan Anda, Penulis mengajak kita bertualang ke berbagai ruang pemaknaan. Tema yang diangkat beragam, dan menawarkan ruang tafsir yang berkeleluasaan. Baca buku ini, dan temukan sesuatu di sini," kata Mas Lenang Manggala, Penulis, Sociopreneur, Founder GMB-Indonesia

Oke sementara itu dulu, izin minum wedang wuh yang baru saja saya rebus. Insyaa Allah menangkal yang datang dari Wuhan. ????

 

Wuaduuh, bagaimana caranya nulis puisi?

Gak mudheng caranya.

Baiklah, semoga catatan kecil ini bermanfaat.

Sebelum menulis puisi, coba TANYA ke dalam DIRI SENDIRI.
Sebenarnya kita ini mau membicarakan apa, mau NGOMONG tentang APA, dan KEPADA SIAPA ?

Nah, jawaban dari pertanyaan tersebut, itulah yang menjadi amanat.

Kapan dan harus di mana ditaruh, itu relatif. Meminjam kalimatnya Kang Hasan El Esfahani:

Sebaiknya dalam menulis puisi tidak bergula-gula, juga tidak mendayu-dayu.

Misalnya:

Angin pagi berhembus perlahan

mayapada masih berselimut kabut

pada kesiurnya kutitipkan pesan

 

Itu bergula-gula, bertele-tele.

Langsung ke pokok soal

 

Coba kita buang gula-gulanya, Jadilah:

 

Kutitipkan rindu ini

pada kesiur angin pagi

 

Semoga bernanfaat. Selamat berlatih.

Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Teruslah menulis dan membaca. Untuk hidup berkualitas, Insyaa Allah.

Menulis untuk mengobati kegelisahan pikir dan hati, Menulis untuk meng-healing sakit psikis dan Menulis untuk mengispirasi berbuat kebaikan.

Afwuminkum, Barokallahulana wa iyyakum fiamanillah wal afiah.

Wassalamu'alaikum.

 

Suprihationo Sardi