Menghargai KARYA PENULIS LAIN = Menghargai KARYA SENDIRI

Menghargai KARYA PENULIS LAIN = Menghargai KARYA SENDIRI

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Salam sehat bahagia. Salam literasi.

 

      Alhamdulillah, Pada satu kesempatan bazar di kelas pelatihan menulis. Saya tawarkan buku saya di meja bazar, berharap ada sesama peserta kelas yang membelinya. Sebuah harapan yang wajar bagi penulis pengasong, seperti saya.

     TIDAK ANEH, jika tak satupun peserta yang menghampiri dan membeli, atau pesan via WA. Karena mereka tidak mengenal saya, dan karya saya belum dikenal mereka.

      Jika ada transaksi maka hanya penulis yang mau menghargai karya kawannya.

Karena menghargai karya penulis lain sama dengan menghargai karya sendiri.

     "Selamat ya Pak. Baiklah saya beli buku ini satu ya," kata seorang peserta. Saya sampaikan terima kasih. Jika ada kawan selain memberikan ucapan, bahkan memberikan penghargaan membeli buku. Kemudian setelah membacanya, ia menelepon saya menyampaikan kesan: “Saya harus menahan air mata untuk tidak tergelincir, ketika membaca bagian akhir tulisanmu.” atau sekadar saran.

 Itu hal luar biasa yang pernah saya alami. Tindakannya menunjukkan kesadaran literasinya luar biasa.

Jangankan begitu. Sekadar memberikan ucapan selamat saja saya sudah senang. Apalagi buku saya dibeli. Alhamdulillah.

       Hal ini harusnya disadari bahwa sebagai penulis memang tidak bisa memaksa orang lain untuk membeli karyanya. Maka lahirlah toko buku statis dan mobile. Yang bisa memanjakan calon pembeli untuk memilih dan memilah buku sesuai budgeting dana bukunya dan kebutuhannya di saat itu.

      Namun yang sering saya jumpai dari beberapa kali saya ikut kelas menulis, dan ada bazar bukunya adalah pernyataan:

        “Pak bukunya bagus, gratis buat saya satu ya.”

      Mental yang begini yang harus berbenah diri. Lain persoalannya, jika pada acara kelas menulis kemudian saya memberikan buku kepada panitia sebagai doorprice. Cara ini bisa sebagai trik pemasaran, umpan kepada peserta pelatihan untuk membaca buku saya, syukur terjadi transaksi dan buku saya terjual. Ada juga peserta penulis pemula (seperti saya) menghampiri dan kemudian:

       "Pak, bagaimana kalau kita barter buku?" Dalam hati saya berteriak, Oiii… hari gini masih barter! (Pasti dia akan mengatakan why not?)

      Saya melihatnya baru bertemu saat itu. Tidak punya database referensi kredibilitasnya, ( jangan tanya Google pasti samar jawabannya ). Maka untuk analisis singkat, saya lihat bukunya hanya kira-kira tebal 65 halaman. Kemudian saya lihat buku saya, tebalnya xii+124 halaman. LOGISNYA, buku saya satu barternya dua. Tapi lebih baik tidak, dan secara baik-baik serta santun saya pun menolaknya.

      "Afwuminkum, mohon maaf bukan saya tidak mau, tapi saya menghormatimu sebagai penulis. Dan juga saya menghargai para mentor saya yang mengajarkan bahwa:

 -barter itu jalan terakhir sekiranya sudah tidak ada jalan lain untuk menghargai dirimu sebagai penulis. Karena itu sedekahkan saja bukumu di Taman Bacaan Masyarakat, itu tempat yang baik untuk kesehatan literasimu sebagai penulis. Karyamu pun bisa menginspirasi banyak orang untuk minimal membacanya dan berkarya-

       Akhirnya saya tidak jadi melepas buku secara barter. Sayangnya hanya sekali. Pada kesempatan lain dua kali, saya dengan berat hati membarter karena belas kasihan. Di kemudian hari saya sadari bahwa itu kurang mendidik diri sendiri dan komunitas untuk menjadi untuk enterpreuner literate yang tangguh.

      Maka sejak itu saya tidak bersedia barter buku. Lebih baik saya menunda membeli karyanya saat itu, karena tidak cukup uang atau memaksa beli buku yang bisa membuat goncang budgeting ekonomi keluarga. Ketika saya ada rebudgeting maka bisalah kawan tadi saya hubungi untuk membeli bukunya.

Ini lebih edukatif untuk saya, dan semoga kawan-kawan saya paham. Harap maklum adanya.

Semoga bermanfaat.

Monggo, shalat Isya' dahulu.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

  

Suprihationo Sardi

Pegiat Literasi di Semarang.

020221. 19:30