Membunuh Pohon

Membunuh Pohon
Sumber: Freepik Premium

Membunuh Pohon (Pentigraf: Ernaz Siswanto)

          Aku tidak pernah tahu apa salahku. Para pendahulunya benar-benar penuh harap mereka menanamku. Agar anak cucunya bisa menghirup oksigen segar, dan mata air itu berlimpah. Namun, pria itu begitu bersemangat menebangku. Digesekkannya gergaji mesin, hanya beberapa menit tumbang tubuhku. Puluhan tahun aku tumbuh dan akarku mengikat air agar tersimpan di dalam tanah.


             Kini, aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Teman-temanku yang lain juga bertumbangan. Rantingku acapkali dianggap berbahaya ketika musim hujan. Mereka takut jika ranting itu jatuh kemudian menimpa pengendara di tengah jalan.. Aku kini tidak rindang apalagi rimbun. Lalu aku semakin terhenyak, ternyata tanah yang selama ini menjadi akarku berpijak telah menjadi tandus.


             Seperti pesakitan, aku kemudian dipotong-potong. Mata air itu kemudian berganti menjadi air mata. Tanah subur itu kini menjadi tanah beton. Air yang berlimpah, kini menyusut dan mata airnya mati. apa orang-orang mulai hilang akal?