Makna 1 Juni 2020 dan Bahasa Daerah

Makna 1 Juni 2020 dan Bahasa Daerah
Sumber gambar: netralnews.com

1 Juni 2020 riuh semarak ‘Hari Lahir Pancasila’. Dibalik krisis korona spirit pancasila harus terus membara. Hari yang bersejarah menguak momen sakral.  Perumusan pancasila membutuhkan waktu tak instan. Para pahlawan berjuang keras menyatukan kemajemukan NKRI dalam ideologi pancasila. Tak heran urgensi pancasila ditanamkan dalam ruang pendidikan. Bahkan setiap upacara bendera senantiasa didengungkan. Sayangnya seiring waktu butir-butir pancasila sebatas hafalan. Kering makna dan minim penghayatan. Era global tanpa sadar melunturkan jati diri bangsa.

Indonesia terkenal dengan kekayaan suku, agama, dan budaya. Budaya Indonesia yang berlimpah adalah aset berharga. Namun modernnya zaman berimbas lunturnya bahasa daerah. Berdasarkan observasi penulis, penggunaan Bahasa Jawa Krama kian pudar terutama pada anak kota. Hal ini dipicu faktor internal dan eksternal. Faktor internal kurangnya kesadaran diri melestarikan bahasa daerah. Sementara faktor eksternal kurang dihidupkannya bahasa daerah di lingkungan sekitar. Contoh sederhana di sekolah anak full berbahasa Indonesia. Sementara sisa waktu di rumah pun berbahasa Indonesia. Tanpa bermaksud mendiskreditkan Bahasa Indonesia. Khawatirnya bahasa daerah lenyap digilas zaman.   

UNESCO mengungkap beberapa bahasa lokal di Indonesia menempati zona merah. Miris! Bila dibiarkan eksistensi bahasa daerah terancam punah. Terlebih budaya luar gencar menyergap. Berapa banyak anak fasih menghafal lagu asing? Belajar bahasa asing memang baik. Namun jangan sampai kelewat ‘cinta’ menggeser jati diri. Meninggalkan bahasa daerah warisan nenek moyang. Maka penting pengenalan bahasa daerah sejak dini. Sebagaimana kesuksesan pesantren membudayakan bahasa daerah kepada santri. Ibarat teori tabularasa, anak ibarat kertas putih tergantung pengalaman apa yang diberikan.

Indonesia tengah membuka episode ‘New Normal’. Upaya kembali produktif dengan tetap waspada penularan. Wacana dibukanya sekolah pun masih digodok. Sembari menunggu kapan waktu kembali sekolah. Mari dekati anak-anak kita. Menumbuhkan rasa cinta pada bahasa daerah. Melestarikan budaya wujud pengamalan sila pancasila. Dimulai dari hal kecil membiasakan berbahasa daerah di rumah dan tetangga.   

“Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung”

 

Semoga uraian singkat tersebut bermanfaat. Baarokallah^^