Hati Bernyanyi

Hati Bernyanyi

Hati Bernyanyi

Dian Riasari

 

Pagi beranjak siang, Hez terburu-buru menata bukunya. Disingkirkannya gitar dan ukulele dari atas meja.

            ”Duh, aku kesiangan lagi. Gara-gara kemarin latihan musik sampai malam nih. Ada apa sih dengan kupingku. Kok nggak denger bunyi beker,” gerutunya .

Ia menyambar sepotong roti bakar sisa semalam. Ditepisnya beberapa ekor semut yang merambah piring. Lalu segera roti itu dieksekusi bareng dengan beberapa teguk air putih.

            Sebuah motor Honda supra yang tidak baru sudah menunggunya.

            ”Berangkat Hez?” sapa Pak Toni, induk semangnya.

            ”Yo’i Pak. Assalamualaikum,” serunya, lalu berlalu berkendara motor merah itu.

Di dekat ujung jalan pertigaan ia berhenti.

            ”Masih cukup waktu. Satu, dua, tiga, … yak!”

            Dari arah kanan jalan seorang gadis langsing keluar dari sebuah gang. Rambutnya yang sepunggung kali ini diikat ekor kuda. Ia menyeberang jalan, menuju belokan jalan di sebelah kiri pertigaan. Hez membelokkan motornya ke kiri. Lalu berjalan pelan menjajari langkah gadis itu.”

            ”Vita! Baru berangkat juga? Bareng yuk!”

            ”Nggak usah, makasih,” jawab Savita tersenyum tipis.

            ”Enggg … kan arahnya sama.”

            ”Nggak usah deh, makasih. Udah janjian sama temen di depan sana. Lagian kamu nggak bawa helm gitu kok.”

            Entah kenapa Hez tidak bisa berkata-kata tiap kali memandang wajah manis itu. Banyak sekali yang ingin dia sampaikan, misalnya membujuk, merayu atau entah apa. Tapi yang keluar dari bibirnya …

            ”Oooh … ya udah deh. Duluan ya.” Di atas motor ia memarahi dirinya sendiri.

            ”Duuuhh …. Kenapa aku malah pergi. Ihhh… kenapa nggak aku temenin jalan sampai ketemu sama temennya. Duuh … kalau balik lagi tengsin dong, lagian apa alasannya … haduuh!”

Tiiiinnn! Suara klakson mobil mengejutkannya. Rupanya ia terlalu berjalan pelan ke tengah sehingga menghalangi laju kendaraan di belakangnya.

            Perkuliahan kadang membosankan. Tapi selalu ada kesejukan. Sesejuk memandang sosok Savita, teman kuliahnya. Sebenarnya Hez dan Savita beda jurusan, tapi di semester awal, ada mata kuliah yang mengharuskan mereka bergabung dalam satu kelas.

            ”Minggir Jon, aku mau duduk di sini,” seru Hez pada Johan.

            ”Eeee … sori Bro, aku udah duluan,” jawab Johan. Setelah bersitegang sejenak, apa daya, Hez pun mundur

Begitulah persaingan. Demi mendapatkan posisi yang pas supaya bisa duduk tepat di belakang Savita. Savita bukan gadis paling cantik di kelas itu. Tapi memandangnya orang tak akan pernah bosan. Gayanya yang cuwek kadang bikin penasaran. Tapi nyatanya ia tidak secuwek itu. Savita aktif di berbagai kegiatan. Ia aktif di senat fakultas dan juga di unitas. Ia aktif di unitas paduan suara universitas. Tapi ia selalu menolak jika diminta bernyanyi solo. Malu, katanya. Padahal kalau saja mau, Hez siap mengiringi dengan gitar kesayangannya.

            Dengan loyo Hez mengambil tempat duduk lain.

”Kamu selalu kalah cepat sama si Jon. Payah kamu,” ledek Anton.

Tidak lama Savita duduk di posisi favoritnya. Kali ini Hez gagal lagi berdekatan dengan Savita.

            Bulan demi bulan berlalu. Savita benar-benar penyemangat kuliah buat Hez. Tapi namanya cewek, entah apa yang dimau. Bukannya dia memilih cowok brondong kece kayak Hez, malah naksir dosen muda yang baru lulus S-2 kemarin sore.

            Seperti pagi ini. Beberapa cewek berebut duduk di kursi deretan depan. Katanya untuk melihat pemandangan indah. Aduh, tepuk jidat deh. Sampai-sampai Hez tidak dapat kesempatan duduk di belakang Savita. Padahal kesempatan kuliah bareng jurusan lain itu langka.

            ”Bagaimana, sudah siap mengikuti kuis pretest?” seru pak dosen ganteng.

            ”Siap Paaak!” seru gadis-gadis di deretan depan dengan bersemangat, termasuk Savita.

            ”Busyet, nih cewek-cewek. Main siap-siap aja. Duuh, pretest?” gerutu Hez dalam hati.

Begitulah, bahkan mereka rajin belajar hanya demi memuaskan pak dosen ganteng. Kadang pura-pura tidak paham supaya pak dosen mendekat. Kadang minta konsultasi padahal tak ada masalah apa-apa. Kadang pura-pura kemalaman supaya bisa nebeng kendaraan pak dosen. Ampun deh, modus banget!

 ”Lalu bagaimana nasib cowok-cowok keren kayak kita dong?” jerit batin mahasiswa cowok jomblo.

***

 

Suatu ketika senat fakultas Hez mengadakan pertandingan bola volley antar fakultas. Beruntung sekali Savita mau ikut jadi panitia. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada Hez. Seusai rapat panitia, yang break dulu untuk ishoma, Hez mendapat kesempatan mengobrol dengan Savita.

”Hez, nama kamu kok nggak ada di list panitia?” tanya Savita sambil membaca proposal kegiatan di tangannya.

”Ada kok. Di sie perlengkapan.”

”Yang mana? Nggak ada nama Hez di sini.”

”Ini namaku,” ucap Hez menunjuk sebuah nama.

”Muhammad Soleh Abdillah? Serius? Kok bisa jadi Hez?”

”Hehehe … Aku aslinya dari Malang. Di Malang ada bahasa prokem, namanya bahasa walikan. Semua kata dibaca terbalik. Misalnya, saya jadi ayas, rumah jadi hamur, mobil jadi libom. Kadang nama juga dibalik. Namaku dibalik jadi Helos. Eh, temen-temen manggilnya jadi Hez, disingkat gitu kali’,” jelas Hez panjang lebar.

”Oh, dari Malang ….”

”Namamu bagus, Savita. Apa artinya?”

”Artinya? Kata ibuku, Savita itu bahasa sanskerta, artinya matahari.”

Tiba-tiba keasyikan itu terusik.

            ”Vit, proposalnya udah fix, kan?” seru Rendi ketua pelaksana kegiatan.

Savita segera beranjak. Aduh, lagi-lagi gagal. Cuma gitu aja ngobrolnya? Lalu dia sibuk. Sibuk dengan cowok yang lain. Lagi-lagi Hez terabaikan.

            Begitu juga ketika hari pertandingan tiba. Setelah membantu Savita membagi minuman kemasan pada peserta dari fakultas lain, ingin rasanya Hez mengobrol dengan ”matahari” itu. Tapi Savita malah memilih mengobrol dengan cowok dari fakultas lain.

            ”Waduh, siapa lagi tuh cowok,” ujar Hez sebal.

            ”Kamu tuh ya … kurang cepet kalau ngegaet cewek. Kalah langkah mulu. Itu kan temen SMA Savita, anak fakultas teknik.” Anton lagi-lagi meledek Hez.

            Jangan-jangan tipe cowok Savita adalah cowok atletis yang olahragawan, gitu. Bukan cowok tengil yang suka main gitar dan main teater. Akh, cuaca yang tadinya cerah mendadak redup karena ”matahari” tidak bersinar seperti yang diharapkan.

***

           

            Semester ini anak-anak senat fakultas akan mengadakan kegiatan refreshing. Kali ini mereka merencanakan untuk hiking ke daerah pegunungan. Pengurus senat memutuskan kegiatan dibuka untuk semua mahasiswa, tidak hanya pengurus yang boleh ikut. Tidak ketinggalan Hez juga ikut mendaftarkan diri. Tentu saja karena Savita juga ikut.

            Anak-anak Tim Pecinta Alam yang memotori kegiatan sudah membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Savita memilih bergabung dengan kelompok dari satu jurusan. Teman-teman Hez menyemangati agar Hez PDKT pada Savita. Hez merasa antara yakin dan tidak yakin, entahlah.

            ”Guys, kita sebentar lagi nyebrang sungai. Kalau Rudi udah sampai di seberang, baru yang lain nyusul sambil pegangan tali. Koordinator kelompok awasi anggota masing-masing, ya,” seru Yuda, sang ketua tim.

            Tim bergerak, mulai menyeberang sungai. Semuanya lancar, sampai tiba-tiba …

            ”Akhh, aduh! Aww, ihh … tolong!”

            ”Savita kenapa? Ada apa?” tanya Rani panik.

            ”Tim! Berhenti! Tenang, hoi!” seru Rudi.

Ternyata ada dua ekor lintah menempel di betis Savita. Kontan beberapa teman cewek ikut-ikutan panik dan ribut. Setelah Rudi menenangkan, akhirnya keadaan lebih terkendali. Hez sudah ada di samping Savita saat mereka sampai di seberang. Savita hampir menangis karena jijik, geli, sekaligus kesakitan. Ia duduk di tanah berumput.

”Tenang Vit. Nggak usah takut. Coba dikasih ini,” ucap Hez menenangkan Savita.

”Apa itu?”

”Lihat aja nanti.”

Hez mengeluarkan rajangan tembakau dari sebuah bungkus plastik. Lalu meremas-remasnya, kemudian meletakkan remasan tembakau di atas lintah di betis Savita.

”Coba usap bagian kaki yang di dekat lintah,” kata Hez memberikan petunjuk. Savita mengusap bagian betis di sekitar gigitan lintah. Tak lama kemudian gigitan lintah terasa mengendur. Hez segera menyentil lintah itu dengan sebatang ranting kecil. Lintah itu terjatuh, lepas dari kaki Savita. Begitu juga lintah kedua, terjatuh juga.

”Eh, lintahnya lepas!” seru Savita senang. Ia memijat bekas gigitan lintah itu. Darah sedikit keluar dari bekas gigitan lintah. Hez membantu mengusap dengan sapu tangannya.

”Jangan. Sapu tanganmu jadi kotor.”

”Nggak apa-apa. Nanti kan bisa dicuci. Nah, sekarang udah nggak apa-apa. Ini nggak berbahaya. Kamu nggak takut lagi kan?”

”Hehehe … bukan takut sih, Cuma jijik aja.”

”Tapi kamu tadi hampir nangis.”

”Hehehe … iya, kupikir gimana kalau lintahnya sampai masuk ke kulit gitu. By the way, kok bisa ya, lintahnya lepas.”

”Jadi begini, kandungan neurotoxin dari tembakau itu bisa ngelepas gigitan lintah. Makanya kalau kita hiking atau traveling ke alam, lewat hutan atau sungai atau rawa, sebaiknya kita bawa bekal tembakau. Gunanya kayak gitu tadi deh. Terus bawa juga minyak tawon. Kayak gini.” Hez mengeluarkan sebotol kecil minyak oles dari ranselnya.

”Nih, olesin ke kaki kamu yang bekas digigit lintah. Olesin juga ke tangan dan pipi kamu. Tuh, digigit nyamuk.”

Savita heran dan sedikit terkesima. Kok ni bocah perhatian banget, ya? Sedang asyik-asyiknya Hez memberikan perhatian pada Savita, tiba-tiba …

”Woi! Udah kelar belum? Cuma lintah aja rewel, belum lagi ular! Yuk, jalan lagi!” seru Rudi.

”Huh! Dasar Rudi! Nggak tahu orang lagi ada kesempatan,” batin Hez jengkel.

Mereka meneruskan perjalanan. Tim sampai di pemberhentian pertama. Mereka tidak akan mendaki sampai puncak. Untuk mencapai puncak akan melewati lima pos pemberhentian bagi pendaki. Ketua tim memutuskan mereka hanya sampai pos ketiga, lalu mereka akan turun lagi.

Perjalanan terus berlanjut. Pos pertama dan kedua sudah dilewati. Setelah beristirahat cukup lama mereka melakukan pendakian malam. Pendakian malam tidak terlalu melelahkan, meskipun hawa sangat dingin. Mereka berbaris berderet dengan mengikatkan tali di pinggang, agar tak terpisah satu sama lain.

Perjalanan kian mendaki, sampailah mereka di pos tiga. Mereka memasang tenda dan bermalam. Api unggun menghangatkan suasana. Tapi bagi Hez, Savita lah yang menghangatkan hatinya.

”Vit, kok kamu nggak pakai sarung tangan, dingin lho.”

”Eh, iya. Aku lupa bawa.”

”Nih, pakai aja punyaku.”

”Terus buat kamu?”

”Jangan khawatir. Aku masih punya yang lain.” Hez menunjukkan sarung tangan yang lain, yang lebih lusuh dan sudah berlubang. Lalu dia cepat-cepat meninggalkan Savita, sebelum ia menolaknya.

Pagi telah tiba, para pendaki mulai melaksanakan salat subuh. Kemudian ketua tim mengajak teman-temannya ke arah timur tenda. Kabut masih cukup pekat. Dingin masih menyelimuti. Tapi mereka sangat bersemangat. Di sebelah timur tenda adalah arah ke jurang yang dikeliling pohon-pohon dan belukar. Pemandangan begitu indah. Fajar mulai menyingsing. Sekelebat jingga mewarnai langit kelabu yang kian tampak membiru.

Hez mencuri tempat di sebelah Savita yang sedang duduk di sebuah batu.

Thanks sarung tangannya, ya.”

You’re welcome,” jawab Hez pura-pura cuwek. ”Tadi malam bisa tidur?”

”Bisa lah,” jawab savita cuwek. ”Emang kamu sering jalan kayak gini, ya?”

”Kalau hiking nggak terlalu sering sih. Tapi kalau tadabur alam, yaah … lumayan, kalau pas latihan alam bareng anak teater.” Savita masih terlihat cuwek.

”Wow! Sun rise!” seru Savita tiba-tiba. ”Kereen … bagus banget. Pohon-pohon hijau, langit jingga, suara sumber air gemericik, dingin, berkabut, tapi indaaah banget! Dan sekarang matahari sudah bangun,” ucap Savita pada dirinya sendiri.

”Ya, matahari yang indah. Kamu matahariku yang indah,” gumam Hez.

”Apa, Hez?”

”Oh … hmm … nggak papa. Sun rise yang kuueeereenn, hehehe.”

Savita, pencuri hati Hez, bersinar seperti matahari fajar yang muncul di cakrawala. Banyak yang lebih cantik darinya. Banyak yang lebih pandai. Banyak yang lebih menarik perhatian. Tapi Savita yang manis, sederhana, gemar berkegiatan, cuwek, bagi Hez seperti itulah cewek idaman.

”Entah kapan aku bisa ngungkapin perasaan. Dan entah kapan kamu akan berhenti cuwek, Savita, matahari pagiku,” senandung hati Hez.

            Setelah sarapan, berdoa, dan bertadabur alam, tim berkemas. Mereka akan meneruskan perjalanan turun gunung. Matahari bergulir ke langit menyinari bumi. Menerangi kisah-kisah yang beraneka warna. Kisah suka, duka, cita dan cinta.