Happy Twins Day

Happy Twins Day
Sumber gambar: 123rf.com

Bulan Agustus ajang perayaan ‘Twins Day’. Mewakili jutaan kaum kembar dunia. Tulisan ini hendak mengupas dunia anak kembar. Sekilas ada yang berpendapat jadi anak kembar enak, gak pernah kesepian, butuh apa saling support, berbagi canda tawa, koneksi teman luas dsb. Namun dinamika kembar tak luput suka dan duka. Mari simak kisah nyata penulis berikut.

Tahun 1998 kami terlahir sebagai bayi kembar. Orang tua kami berkisah, saat kecil kami sering bertengkar. Ya rebutan makanan, baju, mainan. Bahkan ekstrimnya sampai gigit-menggigit dan cakar-cakaran (maklum anak-anak).  Hidup kami penuh kompetisi terutama prestasi. Meski orang tua tak pernah pilih kasih. Nyatanya lingkungan senantiasa membeda-bedakan. “Kemarin ranking berapa?” “Wah satunya lebih pinter ya?” “Kok kalah sih sama saudaramu?” Seiring waktu mental kami didesain untuk bersaing.

Saudara kembar saya memang cerdas. Langganan juara 1 dari TK. Saya? Jujur tak seberapa. Tapi qodarullah tiap UN nilai saya lebih tinggi (just the power of beruntung ehe). Saudara saya jago menghafal. Saya condong bidang seni. Jalan hidup kami amat kontras. Saudara saya mengenyam pesantren 7 tahun. Saya? Hahaha jangan ditanya. Bertambah usia pun masih saja dibanding-bandingkan.  “Satunya mondok kok satunya gak?” “Satunya kuliah kok satunya gak?” Stigma negatif pun muncul. Belum lagi body shaming, “Sekarang beda ya, satunya catik putih eh tapi kembarannya abcdefgh*#%”. Ya mau gimana, saudara saya always stay pondok saya mah keluyuran terus (pembelaan wkwkkw).

            Anak kembar identik jadi pusat perhatian. Simplenya saat baru masuk SMP kami bagai artis. Bukan karena aktivis atau OSIS hanya bermodal kembar seluruh civitas sekolah kenal. “Kembar ya?” Sekelumit wawancara cepat viral. Bersyukur di bangku SMP kami tak pernah sekelas. Menjadi diri sendiri tak dibanding-bandingkan adalah surga. Jenjang SMA hingga detik ini kami beda sekolah dan tempat tinggal. Mengarungi hidup masing-masing. Belajar independen menjadi orang pada umumnya ‘tidak kembar’.

Tak dipungkiri naluri manusia suka membanding-bandingkan. Di lain sisi harapannya untuk memotivasi. Namun tak jarang berujung deskriminasi. Perilaku tersebut dapat mempengaruhi psikis yang bersangkutan terlebih anak-anak. Budaya membanding-bandingkan juga kerap melanda kakak adik. Journal of Family Psychology memaparkan dampak negatif berupa depresi. Akademik anak justru semakin merosot. Prof. Jensen selaku pakar psikologi menyarankan baiknya anak tidak dibanding-bandingkan. Sebaliknya fokus pada titik kelebihannya. Contohnya anak yang tak pandai matematika namun bakat olahraga. Sebagaimana dunia anak kembar. Meski usia, wajah, dan keluarga serupa. Namun mereka memiliki potensi masing-masing. Setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Hendaknya keluarga, guru, dan masyarakat mengapresiasi dan berhenti membanding-bandingkan. Bukankah Tuhan menciptakan anak Adam dengan adil?

 

Semoga uraian singkat tersebut bermanfaat. Baarokallah ^^